Berita

Politik

Mengapa Hoax Tidak Dibiarkan Saja?

SENIN, 01 MEI 2017 | 18:29 WIB | LAPORAN:

Wabah informasi bohong atau hoax harus disikapi tegas oleh negara karena Indonesia adalah negara yang berlandaskan hukum.  

Pernyataan tersebut dikatakan pakar kelirumologi yang juga anggota Dewan Penasihat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Jaya Suprana, dalam diskusi bertema "Memerangi Hoax, Memperkuat Media Siber Nasional" di arena World Press Freedom Day, Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Senin (1/5).

Jaya menegaskan pandangan itu selaku narasumber untuk menjawab pertanyaan salah satu peserta diskusi yang mempertanyakan mengapa pemerintah tidak membiarkan saja hoax beredar, daripada menghabiskan energi untuk memberantasnya bahkan sampai mewacanakan pendirian lembaga anti hoax.


"Jika menganut paham nihilisme, ya biarkan saja (hoax). Tapi kita negara hukum," jawab Jaya Suprana.

Ketua Pusat Studi Kelirumologi menganalogikan perang melawan hoax dengan pembayaran pajak yang dibebankan ke seluruh masyarakat.

"Siapa sih yang mau bayar pajak? Saya saja enggak mau. Saya enggak senang. Merasa terpaksa. Kalau bisa, enggak usah bayar (pajak). Tapi ada satu titik, manusia harus dipaksa," jelas Jaya.

Menurut Jaya, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia masih kurang peka dalam menyikapi hoax. Karena itulah perlu tindakan konkret dari pemerintah dalam memeranginya.

"Kecuali masyarakat kita sudah ada kesadaran. Jadi, menurut saya, (memerangi hoax) ini memang enggak enak. Tapi terpaksa harus ditindak. Tidak ada jalan lain (pembuat hoax) harus dihukum," pungkasnya.

Selain Jaya, hadir sebagai narasumber dalam diskusi itu adalah Deputi IV Kantor Staf Presiden bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, Eko Sulistyo; Ketua Ketua Harian Jaringan Wartawan Anti Hoax (Jawarah), Agus Sudibyo; dan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI, Wina Armada Sukardi. [ald]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya