Berita

Net

Politik

Kolonialisasi Reklamasi

SABTU, 29 APRIL 2017 | 19:20 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

PULAU-pulau reklamasi, di tangan Ahok Cs kabarnya diiklankan di Tiongkok. Asumsinya, pulau palsu itu akan dibeli Chinese upper class. Mereka akan membentuk koloni di sana. WNI akan diserap menjadi pembantu. Pribumi komprador akan bekerjasama dalam bisnis. Menjadi second player. Suplier raw material. Saya kira, proyeksi ini bukan impian Presiden Suharto.

Umumnya, kolonialisasi (penjajahan) menggunakan kekuatan senjata. Brutal Invasion. Sejak abad 15, Eropa lakukan itu. Indian, aborigin, afrikan-negro jadi korban.

Ada beberapa jenis kolonialisasi: Settler colony, dependency, plantation dan trading post colony.


Australia adalah contoh settler colony, di mana terjadi pemindahan penduduk secara masif ke new zone. Akhirnya, new comers lebih banyak dari pribumi. Kolonialisasi gradual sukses. Aborigin jadi pariah di negeri sendiri. Ngga bisa apa-apa, diinjak rasial sovinisme bule dan common wealth.

Dependency colony diciptakan via tekanan senjata oleh colonizer yang mengendalikan pemerintahan lokal. India contohnya. Ada istilah "british raj" di sana.

Budak-budak Afrika dikirim ke Jamaica. Ngebon di kebun-kebun pisang, tebu, kopi, nenas dan sebagainya. Semakin lama, secara bergenerasi, mereka membentuk sebuah koloni. Berasimilasi dengan local people dan slave owners. Jenis kolonialisasi ini disebut 'plantation colony.'

Tipe terakhir kolonialisasi adalah trading post seperti Singapura. Motif awal kolonialisasi ini adalah niaga. Singapura dijadikan port. Migrasi penduduk dari Tiongkok terjadi. Lama-lama pribumi Singapura jadi minoritas dan termarginalisasi. Etnik Chinese menguasai ekonomi, culture kemudian politik. Jadilah Singapura the other Chinese state.

Pulau reklamasi berfungsi sebagai terra nullius (empty land). Koloni baru bisa dibangun di sana. Pak Harto mungkin tak mengira para taipan dan komprador kolaboratornya akan masuk proyek yang dia inisiasi.

Bila benar, pulau reklamasi akan diisi penduduk dari Tiongkok maka itu akan jadi ancaman geo strategis. Ratusan ribu colonizer tepat berada di depan istana. Kekuatan uang mereka mudah jangkau pusat politik negara. Aparatus kekerasan negara bakal jadi centeng. Tionghoa WNI menjadi kolaborator mereka. Negara pasti jatuh ke tangan "the bamboo network." [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak) 


Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya