Berita

Sri Bintang Pamungkas/Repro

Publika

Sri Bintang Pamungkas Dan Senjata Pamungkasnya

SELASA, 04 APRIL 2017 | 12:24 WIB

LAW enforcement (penegakan hukum) memang salah satu persoalan akut negeri ini.

Setiap rezim pemerintahan selalu menciptakan musuhnya sendiri. Sebutan musuh pemerintah setiap rezim selalu berbeda, misal pada masa Orde Baru ada istilah subversif bagi orang-orang yang mengkritisi kebijakan pemerintah.

Masa Jokowi-JK muncul istilah makar sebagai sebutan atau julukan bagi orang-orang yang dianggap menggangu jalannya pemerintahan. Kasus fenomenal yang sekaligus memalukan ketika Polri menangkap aktivis-aktivis senior, salah satu SBP (Sri Bintang Pamungkas).


Setelah 75 hari ditahan akhirnya beliau bebas 15 Maret 2017 karena Polri tak cukup bukti. Tentu saja ini hal yang memalukan, institusi negara menangkap warga negaranya tanpa bukti, sementara terdakwa seperti Ahok masih bebas hingga kini. Sebagaimana kita ketahui SBP kemudian melaporkan Polri ke Mahkamah Internasional.

Rakyat Indonesia harusnya mendukung langkah SBP melaporkan Polri ke Mahkamah Internasional. Langkah pelaporan merupakan 'tamparan' bagi institusi hukum kita, baik terlapor (Polri) maupun kejaksaan dikarenakan laporan merupakan bentuk ketidakpercayaan warga negara terhadap lembaga hukumnya.

Pelaporan ini akan menjadi bahan evaluasi bagi kinerja kepolisian kita sekaligus sebagai pembelajaran warga negara yang HAM-nya diduga dilanggar penguasa. Kita berharap institusi seperti kepolisian dapat bersikap profesional dan jangan menjadi lembaga orderan untuk menangkap warga negara tanpa bukti.

Mari kita dorong semua aktivis senior yang telah dicemari namanya dengan tuduhan makar agar melakukan langkah yang sama. Hal itu penting dilakukan agar arogansi penegak hukum dan pemerintah tidak terjadi lagi. Warga negara Indonesia bukanlah 'alas' kaki cukong dan kompeni, pribumi dilindungi konstitusi karena pribumi yang menjadikan negara ini ada, SBP, Ratna Sarumpaet dan aktivis yang dituduh makar tanpa bukti adalah warga negara Indonesia yang sedang menjalankan amanah konstitusi.

Apa yang mereka perjuangkan adalah menjaga keutuhan NKRI dari kompeni yang mendapatkan manfaat dari cukong, mendapat manfaat dari kapitalis untuk melakukan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme secara institusi. Langkah SBP menurut saya belum 'senjata pamungkas', masih banyak senjata-senjata lainnya.

SBP bukan tipologi aktivis yang bisa disuap dan takut akan ancaman. Integritasnya sudah kita kenal sejak orde baru masih kuat hingga rezim berkuasa hari ini. Runtuhnya rezim Soeharto tentu tak bisa dipungkiri ada andil SBP disana walaupun setelah reformasi bergulir beliau tak mendapatkan kekuasaan seperti Amien Rais, Gus Dur, dan tokoh nasional lainnya.

Fakta sejarah itu membuktikan bahwa SBP berjuang bukan demi materi, jabatan, pujian maupun hal-hal lain yang dikejar aktivis-aktivis kebanyakan. Memang Indonesia kehabisan stok tokoh idealis seperti SBP maupun Ratna Sarumpaet. Kita berharap SBP akan mengeluarkan 'senjata' pamungkasnya dalam menghadapi ke-lebay-an aparat penegak hukum terhadap warga negaranya yang ingin melawan neo-kolonialisme dan neo-imperialisme.[***]


Don Zakiyamani

Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)






Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya