Berita

Foto/Net

Bisnis

KPPU Dorong Kemendag Atur HET Ayam Dan Pakan Ternak

Bentuk Satgas Bersama
SENIN, 03 APRIL 2017 | 09:42 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk menyelesaikan berbagai persoalan perunggasan. Antara lain, mengatasi kerap bergolaknya harga jual ayam di tingkat peternak.
 
Satgas tersebut beranggota­kan anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kementerian Perdagangan (Kemendag), dan asosiasi pe­ternak.

"Setelah bertemu Presiden, Kamis (30/03), saya langsung ikut rapat dengan Kemendag dan peternak. Salah satunya hasil­nya, kami membentuk Satgas," ungkap Ketua KPPU Syarkawi Rauf kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.


Dia menilai, berbagai persoalan di peternakan ayam ter­jadi karena belum adanya aturan main yang bisa menciptakan tata niaga yang sehat.

Misalnya, peternak mengeluh­kan rendahnya harga jual bibit ayam. Hal ini antara lain terjadi karena kelebihan pasokan (over supply). Maka untuk menga­tasinya harus ada aturan untuk mencegah kelebihan pasokan.

Contoh lainnya, lanjut Syarkawi, keluhan peternak soal tingginya harga pakan. Menurut­nya, pihaknya mengusulkan agar harga pakan ternak diatur.

"Kami berharap bisa lahir aturan yang bisa mengatur harga bibit ayam, harga pakan, hingga harga eceran tertinggi di kon­sumen," terangnya.

Syarkawi yakin dengan adanya aturan tersebut bisa menciptakan persaingan usaha yang sehat sekaligus menciptakan stabilitas harga.

Dia mensinyalir harga ayam rendah di tingkat peternak karena broker memainkan harga. "Di tengah berbagai persoalan perunggasan, broker menen­tukan harga di level peternak dan penjual di pasar. Kita se­dang pantau sejauh apa peran mereka dalam mengatur harga," ungkapnya.

Seperti diketahui, ribuan pe­ternak ayam melakukan demonstrasi di depan Istana Merdeka, Kamis (30/03). Mereka menu­tut pemerintah turun tangan mengatasi anjloknya harga ayam dan telur ayam di tingkat peternak.

Fluktuasi harga yang kerap merugikan peternak sebenarnya bukan baru pertama kali terjadi. Bahkan, sudah terjadi sejak tahun 2013. Dalam demonstrasi ini, para peternak merincikan kejanggalan harga jual ayam.

Mereka menyebutkan harga jual ayam di kandang dihargai Rp 15.000 sampai 15.500 per kilogram (kg), harga tersebut di bawah harga pokok produksi (HPP) yakni sebesar Rp 17.000 per kg. Kemudian, telur ayam hanya Rp 14.500 per kg, harga ini juga di bawah HPP yakni sebesar Rp 17.500 per kg.

Rendahnya harga itu dianggap janggal karena di pasar harga kedua komoditas tersebut tidak terjadi penurunan. Harga ayam masih di atas Rp 30.000 per kg. Dan, telur ayam sekitar Rp 22.000 per kg.

"Ini nggak mungkin karena mekanisme pasar. Peternak sudah lama terombang-ambing seperti ini," ungkap Koordinator Sekretariat Bersama Aksi Penye­lamatan Peternak Rakyat dan Perunggasan Nasional (PPRPN), Sugeng Wahyudi.

Produksi Ayam Surplus


Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kemen­terian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita memastikan salah satu penyebab rendahnya harga ayam dan telur di ting­kat peternak karena produksi surplus.

"Produksi ayam dan telur surplus tetapi tingkat konsumsi masyarakat masih rendah. Makanya jadi seperti sekarang," ungkapnya.

Menurut data statistik perte­nak, lanjutnya, pada tahun 2016, populasi ayam ras pedaging (broiler) mencapai 1,59 miliar ekor, ayam ras petelur (layer) mencapai 162 juta ekor dan ayam bukan ras (buras) men­capai 299 juta ekor. Jumlah itu mengalami peningkatan sekitar 4,2 persen dari populasi pada tahun 2015.

"Produksi daging unggas menyumbang 83 persen dari penyediaan daging nasional, sementara produksi daging ayam ras menyumbang 66 persen dari penyediaan daging nasional," kata Ketut.

Menurutnya, Kementan su­dah melakukan beberapa lang­kah antisipatif untuk kembali menaikan harga daging dan telur ayam. Pertama, Kementan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3035/ Kpts/PK010/F/03/2017 tentang Pengurangan bibit ayam (day old chick/DOC), DOC FS Broiler, DOC FS Jantan Layer, dan FS Ayam Layer.

Surat ini ditujukan kepada seluruh perusahaan pembibit agar mengurangi produksi sebe­sar 8 persen. Hal ini bertujuan mengurangi produksi 65 juta ekor ayam per minggu menjadi 63 juta ekor ayam. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Fuad Bawazier: Kekayaan Alam Indonesia Dikuasai Segelintir Orang

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:19

Nanik Deyang Langsung Ditelepon DPR Usai Didemo Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 22:08

Eks Dirjen Kuathan Emosional Bela Leonardi: Ini Perjuangan Negara

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:53

Koperasi Karyawan Forwarder, Bukan Alat Konflik tapi Jembatan Keseimbangan

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:37

Mahasiswa Bubarkan Diri Usai Bertemu Dasco Cs

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:27

Fuad Bawazier Curiga Ada Penghambat di Lingkaran Istana

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:19

IDEacraft Sulap Produk Dekorasi Rumah Menjadi Peluang Usaha Berkat Pemberdayaan BRI

Jumat, 19 Juni 2026 | 21:04

DPR Langsung Telepon Bahlil Menjawab Keresahan Mahasiswa

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:35

Jalani Tes Kesehatan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Selangkah Lagi ke Meja Hijau

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:33

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukti Jokowi Sakti Mandraguna

Jumat, 19 Juni 2026 | 20:22

Selengkapnya