Berita

Agus Martowardojo/Net

Bisnis

Bos BI Sarankan Kebijakan Pangan Direformasi Buat Jaga Laju Inflasi

Rantai Perdagangan Masih Panjang & Tidak Efisien
SENIN, 03 APRIL 2017 | 08:27 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo meng­ingatkan pemerintah untuk terus melakukan reformasi kebijakan pangan untuk menjaga laju inflasi.

"Pencapaian inflasi rendah dan stabil merupakan bagian dari hasil upaya reformasi pangan dalam menjaga ketersediaan pangan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat," kata Agus usai melakukan rapat kor­dinasi (Rakor) dengan Kemen­terian bidang Perekonomian, dan Pemerintah Jawa Tengah di Semarang, baru-baru ini.

Agus menuturkan, kebijakan reformasi pangan diperlukan sebagai upaya untuk mening­katkan produksi dan melakukan pengelolaan pangan secara kon­sisten dan berkelanjutan.


Agus menyebutkan ada lima tantangan utama yang harus di­atasi dalam melakukan reformasi pangan.

Pertama, aspek peningkatan produksi dan pasokan, khusus­nya terkait dengan luas lahan, produktivitas, ketersediaan data, insentif bagi petani, dan ke­bijakan impor. Kedua, aspek pemenuhan infrastruktur penun­jang pertanian, terutama terkait pengairan.

Ketiga, aspek akses pembiayaan. Karena saat ini kelem­bagaan pertanian masih lemah. Keempat, aspek distribusi, lo­gistik, dan tata niaga pangan. Dan, kelima aspek efisiensi struktur pasar. Karena rantai perdagangan komoditi pangan masih panjang.

Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo menambahkan infor­masi untuk menunjukkan betapa pentingnya reformasi pangan.

Dia menuturkan, rata-rata inflasi pangan bisa menyumbang angka 5 hingga 10 persen dari separuh inflasi inti. "Seharusnya volatile food hanya bergejolak beberapa waktu saja. Tapi ke­nyatannya selalu di kisaran yang tinggi. Makanya (inflasi pangan) harus kita atasi," jelas Dody.

Dody menilai, salah satu ter­jadinya inflasi pangan antara lain, waktu kebijakan impor yang tidak tepat. Menurutnya, kerap terjadi saat harga pangan tinggi, impor belum dilakukan. Sebaliknya, saat harga sudah turun, impor baru dilakukan.

Dody mengatakan, untuk mengendalikan inflasi pangan, pemerintah wajib mencarikan solusi untuk mengatasi berbagai persoalan penyebabnya. Karena, kebijakan subsidi dan harga yang diatur pemerintah (administered price) tidak cukup mengendali­kan inflasi.

Dody memperkirakan inflasi pangan tahun ini sebesar 3-5 persen. Angka itu pun bisa ter­capai kalau pemerintah mampu mengatasi masalah produksi, distribusi, dan pembentukan harga. ***

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya