Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

ARTIKEL JAYA SUPRANA

Politik Paranoid

KAMIS, 23 MARET 2017 | 06:56 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

ILMUAN Indonesianis Amerika Serikat, Bill Liddle berbaik hati membagi naskah tulisan kolomnis konservatif Wall Street Journal, Sean Hannity 13 Maret 2017 dengan judul "Deep States and Demagogues" ke milis Institut Peradaban. Sean Hannity berupaya menyadarkan kita semua (yang mau disadarkan) bahwa politik paranoid sedang mewabah di planet bumi masa kini.

Sebagai contoh misalnya pada bulan September 1980, militer Turki melakukan kudeta lalu menangkap sekitar setengah juta warga dan menjatuhkan hukuman mati terhadap sekitar 500 warga. Dua tahun kemudian militer Turki melepaskan kekuasaannya setelah membentuk undang-undang baru yang memberikan kekuasaan prerogatif bagi militer Turki. Selanjutnya kekuasaan hak veto prerogatif para jenderal Angkatan Bersenjata Turki membentuk tulang belakang legal yang disebut dalam bahasa Turki sebagai "derin devlet" alias "deep state" dalam bahasa Inggris di mana mereka yang menobatkan diri sebagai pembela kepentingan nasional tanpa ada yang di atas maupun yang di samping mereka. Semuanya wajib di bawah.

Banyak nilai yang diberikan untuk melukiskan kenyataan politik Turki kecuali bahwa tidak ada yang benar-benar "deep" pada apa yang disebut sebagai "deep state".


Pendek kata segenap pihak sebenarnya tahu apa sebenarnya yang terjadi tanpa berani mengungkapkan kebenaran. Demokrasi dalam arti yang kebebasan mengungkap pendapat memang tidak hadir di Turki. Apa yang terjadi di Turki juga sedang terjadi di Mesir dan Pakistan dan kini mulai merambah ke Amerika Serikat.

Bedasar pengamatan Sean Hannity, pemerintah Trump sedang melakukan perang habis-habisan untuk membasmi habis warisan kepemerintahan Obama yang dianggap sebagai ancaman sabotase terhadap negara, bangsa dan rakyat Amerika Serikat. Hannity mensinyalir bahwa CIA mengarang adanya serangan dunia maya terhadap Amerika Serikat yang dilakukan oleh Rusia.

Harian Media Teman Trump bahkan mengklaim Barrack Obama setelah usai bertugas sebagai presiden langsung menggunakan rumah pribadi barunya sebagai mabes rahasia serangan dunia maya terhadap penerus kepresidenan USA. Ada pula kolomnis Teman Trump yang menegaskan bahwa "The Deep State never sleeps. It's always doing something. Something, that is, to undermine the Trump administration". Akibat meyakini bahwa "The Deep State" tidak pernah tidur demi terus menerus mengusik kepresidenan Trump.

Politik paranoid memang bukan benda asing di politik Amerika Serikat tanpa kenal kanan atau kiri. Kaum yang disebut kiri juga punya keparanoidan tersendiri dalam penilaian terhadap kinerja CIA, NSA, NSC atau ABC atau XYZ atau apapun yang menjelaskan kenapa kini nasib Sean Hannity menjadi mirip dengan Julian Assange.

Ketika Presiden Trump tidak mampu menahan gejolak keparanoidan dirinya sehingga sesumbar mengharapkan pengunduran diri 46 district attorneys, langsung semua mengundurkan diri kecuali Preet Bharara dari Manhattan yang tidak mau secara sukarela mengundurkan diri namun minta dipecat dan ternyata spontan dikabulkan oleh presiden Trump yang langsung tangkas memecat Preet.

Jajaran kepemimpinan CIA dimonopoli anak buah setia Trump dan satu-satunya jenderal di departemen federal juga ditunjuk secara tunggal dan prerogatif oleh Trump. Seluruh media termasuk yang pro Trump seperti Fox News, mendadak dimusuhi oleh Trump lewat Steve Bannon.

Memang Presiden Trump terkesan sengaja menyebar virus politik paranoid di negerinya. Insya Allah, wabah politik paranoid  jangan sampai menular ke Indonesia yang kebetulan sedang terkesan mulai menggemari politik gaya curiga maka asyik saling hujat, saling fitnah, saling lapor dan saling kriminilasi meski pihak yang kebetulan sedang berkuasa terkesan kebal hukum maka kebal kriminalisasi seperti tampak sedang menggejala di kasus e-KTP yang ternyata lebih layak disebut sebagai p-KTP alias plastik-KTP.  Atau huruf "e" di depan KTP itu sebenarnya singkatan "edan"? [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

KPK Sita Rp106,3 Miliar dari OTT BPN, Uang Disimpan di Rumah Tangan Kanan Nusron

Selasa, 15 September 2026 | 20:26

Bapera Hormati Proses Hukum Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 20:24

Homecoming Festival IKA Unpad 2026 Jahit Harmoni Lintas Generasi

Selasa, 15 September 2026 | 20:11

BNI-Pajakind Integrasikan Layanan Perbankan-Perpajakan Digital untuk UMKM

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

Ini Identitas 19 Orang Terjaring OTT KPK di Kasus Kementerian ATR/BPN

Selasa, 15 September 2026 | 20:06

KPK Tahan 8 Tersangka Kasus Suap ATR/BPN, Tangan Kanan Nusron hingga Bos Summarecon

Selasa, 15 September 2026 | 19:58

UOB: Indonesia Punya Tameng Hadapi Guncangan Global, Apa Itu?

Selasa, 15 September 2026 | 19:37

KUHP-KUHAP Baru Perkuat Peran Advokat Dampingi Klien

Selasa, 15 September 2026 | 19:28

Purbaya Terlempar dari Kabinet Diduga Gegara Whoosh

Selasa, 15 September 2026 | 19:17

Pejabat ATR/BPN Terjaring OTT KPK, Wamen Ossy Minta Publik Tak Berspekulasi

Selasa, 15 September 2026 | 19:01

Selengkapnya