Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mempersiapkan Khaira Ummah (35)

Kemerdekaan Berkeyakinan

RABU, 22 MARET 2017 | 08:36 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

ADA pelajaran penting bagi kita terhadap sikap dan per­lakuan Nabi terhadap Panglima Angkatan Perangnya, Usamah ibn Zaid ibn Harit­sah. Ketika peperangan baru saja usai, tiba-tiba menyeli­nap seorang musuh mau me­masuki wilayah kekuasaan prajurit muslim. Usamah yang pernah dipertanyakan kemampuannya untuk men­jadi Panglima Angkatan perang karena masih san­gat junior, kurang 20 tahun, memergoki dan menge­jar musuh tersebut. Musuh itu terjebak di sebuah tebing, sehingga tidak ada lagi jalan keluar. Mundur ada tebing dan di sampingnya ada jurang. Dalam keadaan terdesak tiba-tiba musuh itu memekik­kan dua kalimat syahadat di depan Usamah. Kita tidak tahu apa maksud musuh bebuyutan ini ber­syahadat. Usamah ibn Zaid memahami syahadat itu hanya untuk mengecoh pasukan muslim agar tidak membunuhnya. Usamah kemudian menghu­nus pedang dan membunuh orang tersebut.

Menyaksikan kejadian itu, salah seorang sa­habat melaporkan kepada Nabi bahwa Usamah membunuh orang yang sudah bersyahadat. Me­nanggapi laporan itu Nabi marah sekali hingga terlihat urat di dahinya melintang. Usamah di­panggil Nabi lalu ditanya kenapa membunuh orang yang sudah bersyahadat? Usamah men­jawab bahwa pemuda itu hanya sebagai taktik agar ia tidak dibunuh. Ia juga membawa senjata dan sewaktu-waktu bisa mencelakakan pasukan. Ia dibunuh karena diduga syahadatnya palsu. Mendengarkan secara saksama alasan Usamah membunuh musuh yang sudah bersyahadat, maka Nabi mengeluarkan pendapat: Nahnu nah­kum bi al-dhawahir, wa Allah yatawalla al-sarair (Kita hanya menghukum apa yang tampak, dan Allah Swt yang menghukum apa yang tersimpan di hati orang).

Sikap Nabi ini menunjukkan betapa kita tidak boleh memvonis keyakinan dan kepercayaan orang lain. Jika orang secara formal mempersaksikan syahadatnya secara terbuka, maka kita tidak boleh lagi mengusiknya. Soal ada pelanggaran lain, hal itu yang diproses secara hukum formal. Usamah pun saat itu memohon ampun kepada Rasullullah akan peristiwa itu dan Usamah berjanji akan hati-hati jika menemui peristiwa yang sama terjadi di ke­mudian hari. Jika orang lain dieksekusi maka ses­ungguhnya yang turut korban ialah family terdekat orang itu. Bahkan keluarga yang bersangkutan bisa mengurung diri berbulan-bulan lantaran tidak tahan menanggung rasa malu. Semua orang har­us hati-hati agar jangan begitu gampang memvo­nis seseorang sebagai kafir, musyrik, ahlul bid'ah, karena boleh saja vonis itu memantul kepada diri sendiri. Rasulullah Saw pernah bersabda "barang­siapa yang menuduh orang lain kafir padahal tidak sesuai dengan kenyataan di mata Allah Swt maka yang bersangkutan akan menerima akibatnya yang setimpal."


Sekali lagi sikap Nabi tersebut di atas san­gat penting terutama bagi masyarakat hetero­gen seperti Indonesia. Heterogenitas di dalam masyarakat mengharuskan kita untuk bersikap hati-hati melontarkan tuduhan atau sangkaan. Boleh jadi target kita satu atau beberapa orang tetapi bangsa dan negara bisa terancam. Para penganjur Islam terdahulu pasti sadar bahwa masih banyak umat yang aqidahnya belum sep­enuhnya benar tetapi untuk sementara masih tetap dibiarkan karena bukankah yang terpent­ing ialah penanaman aqidah. Menyusul kemu­dian syari'ah dan akhlaq. Turunnya Al-Qur'an berangsur-angsur, mulai ayat-ayat aqidah yang lebih banyak turun di Makkah kemudian ayat-ayat Syari'ah dan hukum yang lebih banyak tu­run di Madinah. Ini artinya pangkalan pendaratan berupa aqidah harus diutamakan agar memu­dahkan syari'ah dan hukum landing di dalam hati masyarakat. Jika kita tidak taktis dan strat­egis bisa saja usaha dakwah kita menjadi kontra produktif. Berkembangnya kelompok radikal dan pada akhirnya menjadi teroris diduga antara lain disebabkan tidak sabarnya para muballig dalam merespons karakter umat yang heterogen. Kita semua harus lebih banyak belajar pada taktik dan strategi Nabi dalam berdakwah.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya