Berita

Politik

PMN Ala Jokowi Menjerumuskan Banyak Direksi BUMN Ke KPK

MINGGU, 19 MARET 2017 | 16:14 WIB | LAPORAN:

Perusahaan-perusahaan Badan Usaha Mililk Negara (BUMN) penerima bantuan Penyertaan Modal Negara (PMN) dari pemerintah kembali diingatkan untuk transparan.

Hingga kini penggunaan PMN dinilai masih sangat tertutup buat publik. Padahal PMN juga duit negara.

"Jadi APBN ini semua duit dikasih ke BUMN, tetapi pengawasannya kosong alias nol. Dipercayai begitu saja kalau BUMN itu baik, padahal kita tahu BUMN itu bancakan banyak orang," kata Direktur Centre Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi kepada Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu (Minggu, 19/3).


Ketertutupan ini justru menurut dia, mengindikasikan adanya penyimpangan.
Alih-alih mencari investor dengan jaminan pemerintah, perusahaan BUMN bisa saja melaksanakan proyek tanpa melalui tender alias penunjukkan langsung.

"Siapa sekarang yang mengawasi perusahaan BUMN, dengan pola seperti itu? nggak ada. DPR juga nggak bisa, hanya bisa mengawasi namanya kementerian. Itu kan bukan kerjanya kementerian," terangnya.

Apalagi skema pembangunan masing-masing perusahaan BUMN berbeda-beda dan tidak dipahami anggota dewan. Pada bagian lain menyoroti anggaran kementerian saat ini, menurut Uchok, sangatlah minin.

"Contoh Kementerian Desa, itu anggarannya kering malah lebih banyak ke BUMN. Bagaimana mau bangun desa, tapi anggaran di kota semua, di tangan BUMN," kritik Uchok, membandingkan.

Uchok melanjutkan, seharusnya indikasi keberhasilan pembangunan nasional ada di kementerian, bukan di perusahaan BUMN.

"Fokusnya mengerjakan infrastruktur BUMN berarti bukan prestasi presiden, tidak bisa diukur disitu," tegasnya.

Jika pola kebijakan Presiden Jokowi seperti ini terus dipertahankan, ia memperkirakan bakal banyak komisaris dan direksi BUMN dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Jokowi ini menjaga defisit, karena dia takut defisit. Kalau masuk ke perusahaan BUMN kan tidak masuk APBN. Ini akal-akalan juga," tukasnya.[wid]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya