Berita

Setya Novanto/Net

Politik

Petualangan Setnov, Dari Minta Saham Sampai Minta Jatah E-KTP

SABTU, 18 MARET 2017 | 20:57 WIB | LAPORAN:

Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sempat mempopulerkan istilah Papa Minta Saham, setelah diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo untuk mendapatkan saham PT Freeport Indonesia.

Kali ini, politisi yang akrab disapa Setnov itu kembali terseret kasus lain yakni proyek pengadaan kartu identitas elektronik (e-KTP) yang merugikan uang negara Rp 2,3 triliun, saat menjabat ketua Fraksi Golkar.

"Dulu ada Papa Minta Saham, sekarang Papa Minta e-KTP," kata Koordinator Gerakan Aliansi Laskar Anti Korupsi (Galak) Muslim Arbi di sela diskusi di kampus STIE Bank Islam Sjafruddin Prawiranegara, Johar Baru, Jakarta (Sabtu, 18/3).


Seharusnya, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi yang menangani kasus e-KTP bersikap tegas dalam menetapkan dan melakukan penahanan tersangka. Namun, diduga ada sejumlah pertimbangan berkaitan dengan sosok penguasa lain yang membuat penyidik tidak berkutik.

"Harusnya atas nama hukum harus tangkap. Ada saksi dan dua alat bukti. Harus ditindaklanjuti, tidak usah tunggu siapa yang berkuasa," ujar Muslim.

Dia pun berharap mahasiswa dan kalangan pemuda untuk berperan aktif mendorong penegak hukum menindaklanjuti skandal e-KTP. Menurut Muslim, mahasiswa harus lebih berani menyampaikan aspirasi guna membongkar kasus yang diduga melibatkan Setnov dan sejumlah kader PDI Perjuangan tersebut.

"Lihat saja soal e-KTP, mana ada mahasiswa turun ke jalan minta penegak hukum tangkap Setnov atau kader PDIP. Sudah tidak ada lagi mahasiswa yang berani, sudah imun," bebernya.

Seperti diketahui, dalam surat dakwaan, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri Irman dan Sugiharto disebut melakukan perbuatan melawan hukum terkait proyek e-KTP bersama-sama dengan Setnov, pengusaha Andi Narogong, mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini, serta beberapa panitia lelang tender e-KTP tahun 2011-2013. [wah] 

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya