Berita

Foto/Net

Jaya Suprana

ARTIKEL JAYA SUPRANA

Amanat Penderitaan Rakyat Kandeng

KAMIS, 16 MARET 2017 | 07:13 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PADA 15 Maret 2017 petang hari sekitar pukul 17.)) waktu Jakarta, Ibu Ayla dan saya menyapa masyarakat Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah yang sedang merendam kaki mereka ke dalam kotak semen di depan Istana Merdeka Jakarta.

Para petani Kendeng ingin menghadap Presiden Jokowi yang sangat mereka hormati dan cintai demi menyampaikan amanat penderitaan mereka.

Untuk dapat menghayati amanat penderitaan para rakyat Kendeng, saya petik surat terbuka yang mereka tulis bagi Presiden Jokowi yang sangat mereka hormati dan cintai sebagai berikut:


"Kami adalah bagian dari warga desa-desa di  bentang  alam  karst Kendeng yang akan bangkrut penghidupan taninya karena adanya pabrik  semen PT Semen Indonesia di Rembang beserta penambangan bahan semen lainnya di wilayah kami. Kami datang kembali berbondong-bondong ke ibukota  negara, untuk rawe-rawe rantas, malang-malang putung menyemen kaki kami di depan Istana Presiden. Bentuk protes ini telah kami lakukan sebelumnya, dan kali ini kami berniat menyemen kaki kami sampai Pak Presiden tampil kembali sebagai pemimpin rakyat, dan menghentikan seluruh kegiatan industri semen di wilayah hidup kami. Buat apa kami bersusah payah mengambil risiko? Kami menyerahkan diri kami sebagai petani untuk membela kewarasan bangsa dan keutuhan negara Republik Indonesia.

Kami memprotes tindakan pemerintah, pengurus negara Republik Indonesia, yang sejak 2012 telah mempermainkan kami sebagai warga negara, petani, warga bangsa. Dengan taktik petak umpet melawan ketentuan dan kepastian hukum negara, mengabaikan pendapat kami, untuk tetap meneruskan penanaman modal di industri semen PT Semen Indonesia di Rembang.

Pak Presiden, kami juga tahu, bahwa sebagian besar pegawai kantor-kantor pemerintahan yang sampeyan pimpin sesungguh-sungguhnya masih setia mengabdi sebagai pegawai negeri. Justru yang menyusahkan hidup kami, melecehkan martabat kemanusiaan kami, memecah-belah persatuan kami orang desa dari pegunungan Kendeng, menyalahkan kami seolah-olah kami ini orang jahat, adalah kepala-kepala kantor  pemerintah, para pegawai-negeri yang paling tinggi pangkatnya, dosen-dosen universitas yang paling tinggi tingkat pendidikannya, dan paling tahu aturan hukum dan undang-undang, tapi menjadikan hukum, undang-undang dan peraturan untuk menipu rakyat, artinya, untuk menipu diri sendiri juga.

Pak Presiden, kalau sikap sewenang-wenang dari para pejabat tinggi di kantor-kantor yang sampeyan pimpin tidak sampeyan hentikan sekarang, artinya Pak Presiden mengingkari kewajiban dan tanggungjawab melindungi warga-negara Republik Indonesia dan sumber kehidupannya sebagai petani dari ancaman nyata, yaitu adanya operasi industri semen. Perusakan dengan menambang bahan galian sampai  menghasilkan semen tidak bisa dipertemukan dengan cara hidup sehari-hari kami sejak nenek-kakek kami sebagai wong tani, untuk  menanam  memelihara memanen bahan pangan yang tak tergantikan pentingnya buat kami dan orang banyak.

Waktu mau coblosan pemilihan Presiden dulu, kami ini ya benar-benar bangga mau punya Presiden yang merakyat, sederhana, yang tutur kata  dan sikapnya menunjukkan kedekatan dengan rakyat. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kami ya dibikin bingung, terutama oleh aparat dari yang paling dekat dengan dusun kami, sampai kekepala daerah, sampai-sampai ke menteri-menteri, sampai ke pengurus kantor Pak Presiden  sendiri.

Anak-anak muda yang paling peduli dari desa-desa kami malah ditakut-takuti, mau diperkarakan polisi, dicari-cari kesalahan tindakannya.  Tindakan kami membela negeri kami yang kami warisi dengan kerja keras disalah-salahkan sebagai perbuatan tercela.

Sejak pamitan dengan orang-orang terkasih kami di dusun, sejak kami berdoa  bersama,  ngomong  langsung  sama  Gusti  Allah  sebelum berangkat ke depan kantor Pak  Presiden, bukan perempuan bukan laki kami diam-diam pada keluar air mata. Bukan karena ketakutan, bukan karena kami ini sentimentil, tapi karena membayangkan anak-anak kami, akan mewarisi hidup seperti apa mereka, kalau para pegawai yang diupah dengan uang milik publik, menista mereka seperti layaknya memperlakukan hewan melata.

Pak Presiden jangan pernah lupa ya Pak, rakyat memang kecil-kecil, tapi apa-apa yang kami kerjakan menentukan hidup matinya bangsa dan negara kita ini".

Surat terbuka kepada Presiden Jokowi yang sangat mengiba sanubari itu ditandatangani oleh para Petani Pegunungan Kendeng: Joko Prianto (Rembang), Sukinah (Rembang), Suparmi (Rembang), Jumikan (Rembang), Sudiri (Rembang), Giyem (Pati), Gunritno (Pati), Darto (Pati) , Sariman (Pati), Kumari (Blora), Darto (Grobogan) dan lain-lain. [***]

Penulis adalah pendiri Pusat Pembelajar Kemanusiaan

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

RI Tak Boleh Tunduk atas Bea Masuk 104,38 Persen Produk Surya oleh AS

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:16

DPR: Penagihan Pajak Tanpa Dasar Hukum yang Jelas Namanya Perampokan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Suara Rakyat Terancam Hilang Jika PT Dinaikkan

Jumat, 27 Februari 2026 | 10:09

Bursa Cabut Status Pemantauan Khusus 14 Saham, Resmi Keluar dari Mekanisme FCA

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:57

IHSG Dibuka ke Zona Merah, Anjlok ke Level Terendah 8.093 Pagi Ini

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:41

Komisi III DPR Ingatkan Aparat Tak Main Hukum Terhadap ABK Fandi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:38

Perjanjian Dagang RI-AS Perkuat Hilirisasi

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:36

Laba Bersih Astra International Turun 3,3 Persen di 2025, Jadi Rp32,77 Triliun

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:31

185 Lapangan Padel Belum Berizin, Pemprov DKI Segera Bertindak

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:16

Bursa Asia Melempem Jelang Akhir Pekan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:06

Selengkapnya