Berita

Politik

Fadli Zon: Polemik Supersemar Hanya Produktif Jika Dilakukan Sejawaran

SENIN, 13 MARET 2017 | 07:57 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon menilai bahwa kontroversi (Surat Perintah Sebelas Maret) memang selalu mencuat di setiap tangal 11 Maret.

Untuk itu dia mengimbau kepada masyarakay dan kaum elit politik untuk tidak ikut berkomentar dalam kontrovesi ini.

“Berdebat mengenai naskah Supersemar, seperti mengenai keberadaan naskah asli, isi, dan sejenisnya, hanya produktif jika dilakukan oleh kalangan sejarawan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lau, Senin (13/2).


Secara politik, lanjutmya, ada tiga pelajaran aktual yang bisa dipetik dari peristiwa Supersemar. Pertama, kekuasaan harus terus-menerus dikontrol dan diremajakan. Jika tidak, rentan terjadi penyimpangan dan penyelewengan.

Apa yang terjadi pada masa Orde Lama dan Orde Baru mengajarkan pada kita bahwa kekuasaan yang tidak dikontrol dengan baik pada akhirnya akan berakhir pada krisis dan kemelut sosial. Beruntung kita bisa mengakhiri siklus itu melalui Reformasi, sehingga peralihan kekuasaan kini bisa berlangsung secara rutin.”

“Kedua, pemerintah harus konsisten dengan dasar negara dan konstitusi, sehingga keberadaan organisasi massa atau organisasi politik yang tidak sesuai dengan keduanya, juga perundang-undangan yang berlaku, tidak bisa ditolerir, meskipun untuk periode tertentu keberadaannya menguntungkan kekuasaan," sambung Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu.

Ketiga, arsip kenegaraan adalah hal penting yang tidak boleh disepelekan. Dari arsip-arsip itulah generasi yang akan datang bisa belajar sesuatu dari sejarah pendahulunya, baik itu sejarah baik, maupun sejarah buruk.

"Sayangnya, hingga kini cara kita menangani arsip-arsip kenegaraan sepertinya belum beranjak jauh. Jika dulu kita punya persoalan terkait naskah Supersemar asli, misalnya, belakangan kita juga mendengar jika berkas Tim Pencari Fakta kasus Munir di Sekretariat Negara juga diklaim telah hilang. Hal-hal semacam itu tidak boleh lagi terjadi," pungkasnya. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Tiga Tahun UU TPKS: DPR Soroti Masalah Penegakan Hukum dan Temuan Kasus di Lapas

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08

Komisi III DPR Mulai Bahas RUU Perampasan Aset Tindak Pidana

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48

Utang Luar Negeri Indonesia Kompak Menurun

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34

Giliran Ketua DPD PDIP Jawa Barat Ono Surono Diperiksa KPK di Kasus OTT Bupati Bekasi

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19

Muncul Tudingan Pandji Antek Asing di Balik Kegaduhan Mens Rea

Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04

Emas Antam Naik Terus, Tembus Rp2,67 Juta per Gram!

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54

KPK Tak Segan Tetapkan Heri Sudarmanto Tersangka TPPU

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43

TAUD Dampingi Aktivis Lingkungan Laporkan Dugaan Teror ke Bareskrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28

Istana Ungkap Pertemuan Prabowo dan Ribuan Guru Besar Berlangsung Tertutup

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27

Update Bursa: BEI Gembok Saham Tiga Saham Ini Akibat Lonjakan Harga

Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17

Selengkapnya