Berita

Jaya Suprana

Masih Relevankah Nasionalisme

SABTU, 11 MARET 2017 | 19:15 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA pribadi tidak pernah menyukai Proton akibat sang mobil kebanggaan Malaysia menyadarkan bahwa dalam hal industri mobil, negeri saya kalah dibanding negeri tetangga.

Proton menyinggung perasaan nasionalisme saya! Namun anehnya, saya merasa kecewa berat ketika mendengar berita bahwa 51 persen saham perusahaan Proton telah dibeli oleh Geely, sebuah perusahaan holding otomotif China.

Memang China sedang giat membeli perusahaan mobil asing di luar China demi memperluas jangkauan penguasaan industri mobil dunia. Sebelum Proton, pada tahun 2010 Volvo telah dibeli China dengan harga 1,8 miliar US Dolar. Akuisisi Proton oleh Geely potensial membuka pasar Asean dengan total populasi 623.000.000. Dengan memiliki pabrik Proton di Tanjung Malim berarti Geely bisa menjual Proton secara bebas bea cukai impor. Berarti Geely makin mampu bersaing melawan Toyota, Honda, Hyundai di pasar Asean. Di dalam negeri, PM Malaysia sudah dihajar badai kritik para nasionalis Malaysia ketika Najib giat menjual aset industri enerji Malaysia ke pemerintah China.


Maka dapat dipastikan bahwa hujan kritik akan makin deras akibat Najib Razak membiarkan Proton sebagai produk ikon kebanggaan Malaysia dicaplok Geely. Tidak kurang dari mantan PM Malaysia legendaris Mahathir telah mengomeli "kegoblokan" Najib membiarkan Proton dicaplok China sementara China menutup rapat pasar dalam negeri China dari penjualan Proton.

Saya pribadi menyimak penjualan kebanggaan Malaysia ke China sebagai pertanda perubahan zaman makin menuju ke zaman UUD (Ujung-Ujungnya Duwit) maka makin memberhalakan apa yang disebut duwit di atas segala-galanya. Memang Proton sedang dalam masa krisis keuangan akibat masalah pemasaran atau internal manajemen atau entah kenapa, namun yang layak dipertanyakan adalah kenapa Proton sebagai kebanggaan Malaysia tidak diselamatkan oleh pemerintah Malaysia sendiri namun malah dijual ke asing? Pencaplokan Proton oleh Geely merupakan indikasi bahwa di masa kini apa yang disebut sebagai nasionalisme memang sedang mengalami krisis anakronistis alias ketidaksesuaian diri dengan perkembangan zaman.

Dapat diyakini bahwa sebenarnya Proton pasti mampu (kalau mau) diselamatkan oleh putera-puteri Malaysia sendiri. De Facto dalam daya manajemen, teknologi maupun keuangan untuk industri otomotif sebenarnya Malaysia berada pada posisi berdiri-sama-tinggi dan duduk-sama-rendah dengan negeri mana pun di planet bumi masa kini. Maka pasti ada udang di balik batu atau batu di balik udang bahwa penyelamatan Proton tidak dipercayakan kepada bangsa Malaysia sendiri namun dibiarkan dicaplok bangsa asing.

Pembiaran Proton dicaplok China pada hakikatnya masuk kategori tidak mau bukan tidak mampu sebab sebenarnya pasti mampu jika mau. Sama halnya pembangunan infra struktur di negeri kita tercinta ini sebenarnya mampu kalau mau ditatalaksana tanpa mengorbankan lingkungan alam, sosial, budaya apalagi rakyat. Layak disimpulkan bahwa pada hakikatnya nasionalisme memang sedang dalam kondisi krisis akibat bukan ketidakmampuan namun sekadar ketidakmauan belaka.  

Akibat terbukti bahwa neo imperialisme dengan iming-iming duwit memang ternyata ampuh mengungguli nasionalisme apabila dibiarkan, maka perlu dipertanyakan di masa yang disebut sebagai era globalisasi ini: masih relevankah nasionalisme. [***]

Penulis merupakan pembelajar nasionalisme


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya