Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

Presiden PKS: Tidak Salah Rizal Ramli Dijuluki Rajawali Ngepret

RABU, 08 MARET 2017 | 06:58 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pidato ekonom senior Rizal Ramli dalam Rapat Koordinasi Nasional PKS di Depok, Jawa Barat, Selasa (7/3), menuai apresiasi dari Presiden PKS Sohibul Iman.

Sohibul Iman menilai pidaro dari Sang Rajawali berhasil membakar semangan juang kader PKS. Hal ini sebagaimana ia luapkan dalam sebuah pantun yang diposting di akun Twitter pribadinya @msi_sohibuliman.

"Terbang tinggi rajawali, hinggap di kutub penuh dengan es. Di Rakornas ada bang Rizal Ramli, bakar semangat kader-kader PKS," kicaunya, Rabu (8/3).


Tidak hanya itu, Sohibul juga mengakui kehebatan Rizal Ramli dalam bidang ekonomi. Atas alasan itu, ia berpendapat bahwa publik tidak salah menjuluki Rizal Ramli sebagai Rajawali.

"Bang Jali pergi ke pasar, cabe mahal terkaget-kaget. Bang R. Ramli selalu menggelegar. Tidak salah dijuluki Rajawali Ngepret," puji Sohibul.

Dalam pidato di Rakornas PKS, Rizal Ramli menyorot mazhab ekonomi neoliberal yang dijalankan pemerintahan Joko Widodo.

Rizal mengatakan, selaku partai yang lahir di era reformasi, PKS seharusnya tampil melawan sistem ekonomi yang menyengsarakan mayoritas rakyat.

Ia mengingatkan, sistem ekonomi neoliberal yang dahulu dijalankan Orde Baru adalah salah satu hal yang hendak ditumbangkan gerakan reformasi.

"Maaf, garis ekonomi PKS tidak jelas. Partai Keadilan Sejahtera tidak pernah membahas ekonomi yang mensejahterakan rakyat," kritiknya, di Hotel Bumi Wiyata, Depok.

Bahkan Rizal mengamati bahwa selama ini partai yang dipimpin Sohibul Iman itu bisa disebut sebagai pendukung garis ekonomi neoliberalisme. Kesimpulan tersebut dapat diambil bila menyimak pidato-pidato para petinggi PKS.

Mantan Menko Maritim dan Sumber Daya itu menegaskan, dukungan kepada neoliberalisme akan membawa Indonesia kembali ke bawah cengkeraman kolonialisme. Tidak akan ada negara yang sejahtera jika kesenjangan sosialnya sangat besar dan bergantung pada utang seperti yang dianjurkan para ekonom neolib.

"Ekonom yang benar itu struktural, ekonom konstitusional, tidak ekonom turun naik," tegas Menteri Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Dalam pidatonya, Rizal juga mengangkat lagi istilah "ekonomi gelas anggur". Seperti bentuk gelas anggur, keadaan ekonomi yang disebutnya itu menggambarkan kekuatan ekonomi kelas menengah dan bawah yang sangat rapuh. Sedangkan di bagian atas, hanya ada sekitar 200 keluarga yang menguasai ribuan perusahaan. Ekonomi gelas anggur itulah yang menjadi jalan ekonomi Orde Baru dan dilanjutkan sampai sekarang.

Di berbagai kesempatan, Rizal berkali-kali menegaskan bahwa  struktur ekonomi yang ideal berbentuk seperti piramida. Di sana, ada kelompok yang besar yang efisien, ada golongan menengah yang kuat, dan ada usaha kecil dan ekonomi rakyat yang juga efisien. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya