Berita

Foto/Net

Politik

Diduga Ada Orang Istana Jadi Provokator Bentrokan Di Intan Jaya, Papua

MINGGU, 26 FEBRUARI 2017 | 17:32 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Bentrokan antar dua kubu pendukung pasangan calon bupati dan wakil bupati di Pilkada Kabupaten Intan Jaya, Papua, terus berlanjut hingga Sabtu, (25/2). Korban tewas dikabarkan telah bertambah menjadi enam orang dan luka-luka terkena panah sebanyak 600 orang.

Begitu kata anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Natalius Pigai dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Minggu (26/2).

"Konsentrasi massa juga masih terus berlanjut di Sugapa. Terutama di Pastoran Bilogai, ratusan massa masih berkumpul. Rumah-rumah banyak kosong, karena pada takut dibakar lalu dijarah," ujarnya.


Bentrok antar pendukung ini terjadi saat rekapitulasi perhitungan suara berlangsung Kamis( 23/3) lalu. Meski rekapitulasi belum final, sejumlah massa sudah bertindak anarkis. Kemungkinan, lanjut Pigai karena mereka sudah tahu berapa suara masing-masing sesuai rekapitulasi di tingkat distrik.

Selain itu, ada dugaan seorang pekerja di Istana Presiden ikut memprovokasi terjadinya bentrokan.

"Salah satu orang yang bekerja di Istana Presiden Jokowi berinisial MT memprovokasi massa pendukung dengan mengeluarkan kata-kata rasis dan mengejek suku lawan yang kebetulan minoritas dan memaksa suku mayoritas harus ditetapkan sebagai Bupati tanpa melihat hasil," sambungnya.

Pemaksaan kehendak dan ejekan terhadan suku lain tersebut yang kemudian memancing amarah massa pendukung kandidat petahana.

Untuk diketahui, kandidat petahana berasal dari suku minoritas yang diduga menang dalam pilkada.

"Saya menyampaikan kepada pimpinan kepolisian dan telah direspons dengan mengirimkan keamanan tambahan serta Kapolda dan Pangdam telah ke Sugapa tanpa Gubernur," pungkasnya. [ian]

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya