Berita

Imam Shamsi Ali/Net

Politik

Rally "Today I am a Muslim too" di NYC

RABU, 08 FEBRUARI 2017 | 06:55 WIB | OLEH: IMAM SHAMSI ALI

MENINGGINYA Islamophobia di Amerika Serikat dan terjadinya kasus-kasus kekerasan kepada komunitas Muslim menimbulkan banyak keresahan, kekhawatiran, bahkan ketakutan kepada komunitas Muslim. Sejak memulai kampanye hingga terpilihnya presiden Trump telah berhasil menebarkan racun ketakutan dan kebencian kepada sebagian masyarakat Amerika, yang memang selama ini sangat salah dalam memahami Islam dan pengikutnya.

Puncak dari semua itu adalah dikeluarkannya Executive Order atau dikeluarkannya aturan melarang pendatang dari tujuh negara mayoritas Muslim untuk masuk Amerika. Keputusan pelarangan tersebut segera menyulut protes, bahkan kemarahan tidak saja warga Muslim Amerika, tapi juga masyarakat luas non Muslim di Amerika. Demonstrasi terjadi di mana-mana, khususnya di berbagai bandara internasional di berbagai kota Amerika.

Keputusan itu bahkan memicu drama di kalangan pejabat Amerika sendiri. Acting Attorney General atau Jaksa Agung Amerika menentang untuk melaksanakan keputusan pelarangan itu dan berakhir dengan pengunduran diri, lalu disusul oleh pemecatan oleh Presiden Donald Trump. Pada akhirnya memang keputusan Trump (Executive Order) itu dibatalkan oleh Hakim Tinggi Amerika. Permintaan banding Trump ditolak kembali oleh Hakim Agung untuk kedua kalinya.


Solidaritas warga Amerika

Barangkali salah satu hikmah terbesar dari hadirnya Donald Trump di kancah perpolitikan Amerika dengan berbagai konsekwensi buruk itu adalah tumbuhnya empathy dan solidaritas tinggi dari masyarakat Amerika secara luas. Dari kalangan pejabat yang secara politik berseberangan dengan Donald Trump, khususnya mereka yang berafiliasi dengan Partai Demokrat, hingga kepada pebisnis seperti pemilik Facebook, pimpinan agama termasuk Yahudi, pengamat dan ahli, masyarakat Hollywood, hingga kepada masyarakat luas.

Rally dan demonstrasi yang terjadi di mana-mana, mulai dari jalan-jalan, depan Trump Tower, kantor-kantor pemerintahan, bandara-bandara, hingga ke White House dan Kongres pada umumnya diinisiasi dan diramaikan oleh teman-teman Amerika non Muslim. Mungkin yang unik disebutkan di sini adalah keterlibatan masyarakat Yahudi membela hak-hak Muslim di berbagai kesempatan.

Dukungan dan solidaritas teman-teman non Muslim yang masif ini menjadi salah satu faktor pressure yang menjadikan Hakim Agung Amerika membatalkan keputusan Presiden Trump itu.

Rally "Hari ini saya juga adalah Muslim"

Dukungan dan solidaritas teman-teman non Muslim di Amerika tidak saja resistensi terhadap keputusan pelarangan Donald Trump terhadap Muslim dari tujuh negara itu. Tapi memang sejak lama ketika fenomena Islamophobia dan anti Muslim meninggi di Amerika.

Di tahun 2010 misalnya, ketika Komunitas Muslim New York akan membangun sebuah Islamic Center dekat Ground Zero (WTC) masyarakat Amerika termakan oleh politisasi isu agama ini oleh sebagian politis Amerika. Salah satu di antaranya adalah Ketua Komite Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security) di Konger Amerika ketika itu, Peter King dari Long Island New York. Dalam kapasitas itu Peter King ingin mengadakan "hearing" (dengar pendapat) dengan tema: radikalisasi Muslim Amerika.

Tema dengar pendapat ini tentu sangat menyinggung bahkan menyakiti masyarakat Amerika. Karena asumsi yang terbangun kemudian adalah bahwa masyarakat Muslim Amerika sedang mengalami proses radikalisasi di Amerika Serikat. Apalagi rencana tersebut dibangun di atas sebuah laporan pihak yang tidak bertanggung jawab bahwa 70% masjid-masjid di Amerika dikuasai oleh kelompok radikal.

Menyikapi ini teman-teman non Muslim sangat terusik, bahkan menganggap isu tersebut bukan lagi isu kelompok tertentu. Melainkan isu nasional karena dinilai bertentangan dengan dasar konstitusi yang menjamin keadilan untuk semua (justice for all) sekaligus menginjak-injak nilai yang dijunjung tinggi Amerika (American value) dalam toleransi dan kebebasan beragama.

Merespon terhadap rencana itu saya pribadi didatangi oleh banyak teman-teman pimpinan agama di kota New York menanyakan jika mereka dapat membantu ketidakadilan (unfairness) sikap dari Ketua Homeland Security itu. Dan mereka mengusulkan jika komunitas Muslim mengadakan rally atau demonstrasi dengan tema: Today I am a Muslim too (hari ini saya juga seorang Muslim).

Kini dengan keadaan sosial yang cukup tegang, mengkhawatirkan, bahkan menakutkan dan seolah tidak menentu, warga Muslim kembali mendapat dukungan dan solidaritas yang luar biasa dari teman-teman warga Amerika non Muslim. Termasuk mengusulkan agar kembali diadakan rally atau demonstrasi dengan tema yang sama di tahun 2010 itu.

Tentu sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan segera saya tangkap tawaran itu. Dan dalam waktu sekejap rencana itu diamini oleh berbagai kalangan komunitas antar agama, Yahudi, Kristen, Budha, Hindu, Sikh. Bahkan organisasi-organisasi massa non agama juga menyatakan ingin bergabung membela komunitas Muslim.

Rencana rally ini akan dilangsungkan pada tanggal 19 Februari, dengan mengambil tempat di Time Square, pusat kota New York. Untuk keperluan logistik dan perizinan kami telah melibatkan teman-teman Muslim di kepolisian kota New York (NYPD).

Sebagaimana di tahun 2010 lalu, selain pimpinan agama-agama besar dan berpengaruh di Amerika, juga akan terlibat langsung bahkan dalam perencanaannya adalah Russell Simmons, Hiphop mogul yang sangat terkenal dan berpengaruh di lingkungan Hollywood.

Rencananya juga rally akan dihadiri oleh para aktifis dan pejabat tinggi seperti walikota dan gubernur negara bagian New York. Insya Allah! [***]

New York, 7 Februari 2017

Penulis adalah Presiden Nusantara Foundation

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Langkah Polri Bongkar Kasus Dugaan Korupsi Kejagung Tuai Apresiasi

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:59

UPDATE

Matador Pulangkan Belgia di Menit Akhir

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:14

Pengadaan Batu Bara Belum Tentu Penyebab Blackout Sumatera

Sabtu, 11 Juli 2026 | 04:05

Ijazah Asli Jokowi Dipastikan Sama seperti Unggahan Dian Sandi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:45

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Jampidsus Febrie Resmi Mundur

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:23

Antara VAR dan Tuduhan Argentina Anak Emas FIFA

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:02

Pemerintah Dukung Kortastipidkor Usut Tuntas Perkara Korupsi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:35

Pernyataan Febrie Dinilai Upaya Kendalikan Narasi di Tengah Deretan Fakta

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:33

Demo Copot Jampidsus Febrie

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:24

Akademisi University Swedia Teliti Penanggulangan Bencana PMI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 02:11

Selengkapnya