Berita

Donald Trump/net

Dunia

Resmi, Trump Larang Masuk Pengungsi Muslim Suriah

SABTU, 28 JANUARI 2017 | 09:57 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sepekan memimpin Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengumumkan langkah-langkah ekstrem untuk menjaga AS dari gangguan "teroris Islam radikal".

Kemarin, dia menandatangani perintah eksekutif yang salah satu poinnya melarang pengungsi Suriah masuk ke wilayah AS sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Trump menandatangani perintah eksekutif itu di Pentagon setelah upacara sumpah jabatan untuk James Mattis sebagai Menteri Pertahanan.


Trump, dalam sebuah wawancara, juga menyebut spesifik bahwa kaum penganut Kristen akan diberikan prioritas di antara para pengungsi Suriah yang ingin masuk ke AS.

"Saya membangun langkah-langkah baru untuk menjaga Amerika Serikat dari teroris Islam radikal. Kami hanya ingin memasukkan orang yang akan mendukung negara kita dan memiliki cinta mendalam pada orang-orang kita," ujar Trump dalam upacara pelantikan Menteri Pertahanan.

Isi dari perintah eksekutif itu dirilis beberapa jam setelah ditandatangani Trump. Butir-butirnya antara lain mengatur penundaan atas program penerimaan pengungsi selama 120 hari. Larangan masuk bagi pengungsi dari Suriah sampai ada "perubahan signifikan" yang dibuat.

Kemudian, memprioritaskan pengajuan status pengungsi dari mereka yang menjadi korban tindak penganiayaan berbasis agama, tetapi dengan catatan orang tersebut merupakan bagian dari agama minoritas di negara asalnya.

Perintah itu juga meminta semua program imigrasi harus mengevaluasi kemungkinan pemohon bisa memberikan kontribusi positif kepada masyarakat AS.

Seperti diberitakan BBC, penandatanganan perintah eksekutif itu dikritik keras oleh para politikus Partai Demokrat dan tokoh-tokoh HAM di AS.

Senator Demokrat, Kamala Harris, menegaskan bahwa  peraturan itu adalah pelarangan bagi Muslim.

"Kita telah membuka pintu bagi orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan dan penindasan selama puluhan tahun. Selama Holocaust, kita gagal untuk membiarkan pengungsi seperti Anne Frank ke negara kita. Kita tidak bisa membiarkan sejarah terulang," katanya.

Malala Yousafzai, remaja peraih Nobel Perdamaian yang pernah ditembak oleh Taliban, bahkan menyatakan bahwa dia merasa "patah hati" akibat peraturan rezim Trump.

"Hari ini Presiden Trump menutup pintu pada anak-anak, kaum ibu dan bapak yang melarikan diri dari kekerasan dan perang," katanya.

Pendiri Facebook, Mark Zuckerburg, mengatakan ia "prihatin" terhadap perintah eksekutif presiden AS, dan menegaskan bahwa ia sendiri, seperti banyak warga AS lainnya, adalah keturunan imigran.

"Masalah ini pribadi bagi saya, bahkan di luar dari persoalan keluarga saya," tulis Zuckerburg di akun facebooknya sendiri . [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya