Berita

Dunia

Slogan "America First" Yang Disuarakan Trump Berbau Fasisme

SABTU, 21 JANUARI 2017 | 06:57 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Slogan "America First" yang didengungkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dalam inaugurasinya sebagai presiden ke-45 AS di Capitol Hill mendapat kecaman.

Sebagian kalangan di AS mengkritik keras slogan itu karena "America First" terakhir digunakan pada tahun era 1930 oleh orang-orang Amerika yang mendukung fasisme dan Nazi.

Editor New York Magazine , Andrew Sullivan, mengungkapkan keprihatinannya atas penggunaan kalimat itu walaupun sebatas "retorika kampanye".


Dalam pidato pelantikannya yang berlangsung 20 menit, Donald Trump kembali mengumandangkan langkah-langkah nasionalisnya yang keras. Ia berbicara soal mengakhiri bantuan ke luar negeri, membangun perbatasan negara, mengembalikan lapangan kerja ke warga AS sendiri, dan "totalitas kesetiaan" kepada negara.

Donald juga menegaskan, pelantikannya tidak hanya mentransfer kekuasaan dari satu partai dan presiden ke pihak lain yang terpilih lewat Pemilu, melainkan juga transfer kekuasaan "dari Washington DC" dan memberikannya kembali kepada rakyat AS.

"Mulai hari ini, visi baru akan mengatur negara kita. Mulai hari ini, itu akan menjadi hanya America First, America First," tegas Donald.

Setiap keputusan pada perdagangan, pajak, imigrasi, dan kebijakan luar negeri akan dibuat untuk menguntungkan pekerja Amerika dan keluarga Amerika.

"Kita harus melindungi perbatasan kita dari kerusakan akibat negara-negara lain membuat produk kita, mencuri perusahaan kita dan menghancurkan pekerjaan kita," ucapnya berapi-api.

Secara sadar atau tak sadar, slogan "America First" itu bernuansa kebijakan luar negeri proteksionis dan anti-Semit. Media-media internasional seperti The Independent dan Mirror, pun menyorot khusus slogan tersebut dalam pemberitaan pasca inaugurasi.

Slogan "America First" pertama kali digunakan oleh gerakan anti-Semit yang mencoba untuk mencegah AS memerangi Nazi Jerman.

Slogan tersebut dipakai kalangan fasis untuk membela rezim Hitler dan menyatakannya bukan ancaman bagi warga AS. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya