Berita

Jaya Suprana

Hidup Di Atas Puing

JUMAT, 20 JANUARI 2017 | 11:20 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PETANG hari 18 Januari 2017 saya didampingi Direktur Utama MURI, Aylawati Sarwono, pemuka masyarakat Luar Batang, Daeng Mansyur, penggerak pemuda Katolik, Maria Ninis beserta laskar kerabat kerja MURI menjenguk sesama warga Indonesia yang sedang mengungsi di tenda dan bedeng di atas puing Pasar Ikan, Luar Batang, Jakarta Utara.

Mereka terpaksa mengungsi bukan akibat bencana alam atau bencana peperangan namun sekedar akibat bencana penggusuran yang dilakukan oleh pemerintah daerah khusus istimewa Jakarta pada hari Senin, 11 April 2016 dengan alasan klise-klasik menggetar sukma yaitu pembangunan kota Jakarta menjadi lebih tertib, aman, sehat, sejahtera dan bebas banjir.

Kisah penggusuran  dramatis akibat memperoleh perlawanan dari ratusan rakyat yang tentu saja tidak berdaya melawan ribuan anggota satuan polisi pamong praja didampingi polri dan TNI seperti telah sukses terlaksana pada penggusuran Kampung Pulo dan Kalijodo.


Menakjubkan, bagaimana keberhasilan menggusur rakyat  tidak berdaya ternyata dielu-elukan sebagai bukti keberanian bahkan kepahlawan pembangunan. Ketika menyaksikan kondisi kontemporer Pasar Ikan, Aylawati Sarwono menganalogkan Pasar Ikan dengan Allepo.

Saya pribadi menganggap tragedi Pasar Ikan secara ragawi malah lebih parah ketimbang Allepo. Masih ada sisa bangunan yang belum runtuh di kota bersejarah Suriah, sementara di kawasan bertetangga dengan Museum Bahari di Jakarta segenap bangunan sudah berhasil dibumiratakan oleh laskar penggusur.

Tragedi Allepo diratapi oleh seluruh dunia sementara tragedi Pasar Ikan diratapi hanya oleh mereka yang terpaksa mengalami derita tragedi itu sendiri. Para warga Allepo juga tidak mengalami derita para warga Pasar Ikan dalam hal setelah digusur masih dihujat sebagai para perampas tanah negara, pelestari kemiskinan, sampah masyarakat, penghambat pembangunan, penyebab banjir dan anekaragam hujatan lainnya.
Pada saat kunjungan ke puing-puing bekas Pasar Ikan, kami sempat berjumpa seorang ibu muda usia menggendong balita yang diberi julukan si Puing sebab secara harafiah memang dilahirkan di atas puing-puing kawasan bekas Pasar Ikan.

Kami juga menyaksikan gelora semangat perjuangan hidup tak terpatahkan  pada warung darurat menjual makanan kecil buatan para warga tergusur sendiri.   Semangat melawan penindasan yang kini dijabarkan dalam bentuk class-action warga tergusur menggugat penggusur, juga tersirat pada nama masjid yang dibangun atas swadaya rakyat di atas puing Pasar Ikan yang semula Al Ikhlas kini diganti menjadi Al Jihad.

Mayoritas warga yang menyambut kedatangan kami adalah kaum perempuan karena para lelaki sedang melaut demi mencari nafkah dengan cara menangkap ikan selama bukan berjam-jam namun berbulan-bulan.

Keharuan makin mencengkam sebab aliran listerik dan air bersih khusus hanya ke kawasan bekas Pasar Ikan diputus oleh PAM dan PLN sebab secara formal-adminstratif kawasan bekas Pasar Ikan sudah dianggap tidak ada lagi. Mengenai para warga yang kini de facto bermukim di tenda dan bedeng bekas Pasar Ikan yang de jure memiliki KTP sebagai bukti sah bahwa mereka adalah  penduduk kota Jakarta tampaknya sudah dianggap tidak berhak dianggap sebagai warga negara Indonesia maka tidak layak memperoleh saluran listerik dan air bersih.

Mereka yang masih memiliki nurani kemanusiaan pasti sulit merasa tidak terharu ketika  menyaksikan kenyataan bahwa setelah merdeka sejak 1945 ternyata masih ada sesama warga Indonesia masih hidup dalam kesengsaraan akibat diperlakukan sebagai bukan warga Indonesia oleh sesama warga Indonesia sendiri.[***]

Penulis pemrihatin nasib rakyat tergusur


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Pendaftaran MagangHub Angkatan II Batch 1 Masih Dibuka, Begini Caranya

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:59

Sesat Pikir Program MBG

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:45

Demi Lunasi Utang Pinjol, Seorang Wanita Hampir Disetubuhi Debt Collector

Kamis, 23 Juli 2026 | 05:18

Cinta dan Benci Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:59

Saatnya Generasi Milenial Tampil Tentukan Nasib Bangsa di Pemilu 2029

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:40

Sumpah Sudaryono dan Donny

Kamis, 23 Juli 2026 | 04:20

49 Startup Binaan IPB University Didorong jadi Produk Unggulan Nasional

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:50

Prabowo-Anies Flagships

Kamis, 23 Juli 2026 | 03:25

TelkomGroup Perkuat Peran Penggiat Budaya Lewat CAMG 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:59

Negara OKI Didesak Bantu Iran Hadapi Agresi AS dan Israel

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:45

Selengkapnya