Berita

Sri Bintang Pamungkas/Net

Politik

Alasan Sri Bintang Menolak Bicara Makar Ke Penyidik

SENIN, 16 JANUARI 2017 | 18:06 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Tersangka kasus dugaan makar Sri Bintang Pamungkas (SBP) menolak untuk menjadi saksi mahkota selama pemerintah belum mencabut tudingan terhadapnya dan meminta maaf.

"Baru diduga kok sudah ditangkap dan ditahan selama 2 bulan. Karena itu saya tetap bertahan dalam posisi saya tidak mau bicara. Saya akan bicara sampai semua puas, Jokowi-JK puas, Tito puas, setelah tuduhan terkait makar dicabut dan mereka minta maaf," ujarnya dalam keterangan tertulis kepada redaksi, Senin (16/1).

Lebih lanjut, ia menyayangkan proses penangkapannya yang tidak sopan dengan mendobrak pintu dan memaksa keluar hingga pemborgolan. Terlebih saat dirinya dipaksa untuk mengakui tuduhan makar.


"Kita ini ada di negara hukum, bukan negara kekuasaan. Saya berpkir ini negara Jokowi-JK-Tito. Sungguh tidak pancasilais apalagi sopan," kesalnya.

Dijelaskan Sri Bintang bahwa jauh sebelum Jokowi-JK menjadi pemimpin negeri ini, dia sudah menegaskan diri beroposisi melawan berbagai kebijakan rezim yang menyimpang dari konstitusi, Pancasila, dan cita-cita kemerdekaan 1945. Artinya, perlawanan tersebut adalah reaksi atas kebijakan dan langkah rezim yang dianggap mencederai rakyat, bangsa, dan negara.

"Tapi pikiran dan pendapat kami tidak pernah mendapat perhatian. Bahkan, ketika kami melihat kenyataan negara ada dalam bahaya besar sebagai akibat semakin merajalelanya kepentingan asing dan aseng di era Jokowi-JK ini tanpa menjawab apapun, segera kami diringkus dengan tuduhan bohong. Tanpa ada dialog!" sambungnya.

Atas alasan itu, Sri Bintang mengaku tidak akan berbicara ke penyidik seputar tudingan makar, karena tudingan tersebut dianggapnya memang tidak ada.

"Sekarang saya diminta bicara sebagai "saksi mahkota " untuk tersangka lain dalam perkara yang sama, bagi saya membikin saksi mahkota adalah tindakan keji para penyidik. Para ahli hukum pun menilai itu sebagai upaya "kehabisan akal " tidak rasional, tidak profesional, hanya terjadi di negara fasis dan komunis, model George W. Bush, penjahat Guantanamo! Karena itu, saya menolak menjadi saksi mahkota," tegasnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

War Tiket Haji Untungkan Orang Kaya

Minggu, 12 April 2026 | 04:17

Paradoks Penegakan Hukum

Minggu, 12 April 2026 | 04:12

BPKH Pastikan Dana Haji Aman di Tengah Dinamika Global

Minggu, 12 April 2026 | 04:00

Kunjungi Rusia Jadi Sinyal RI Tak Mutlak Ikuti Garis Barat

Minggu, 12 April 2026 | 03:40

Anak Usaha BRI Respons Persaingan Bisnis Outsourching

Minggu, 12 April 2026 | 03:16

Ibadah Haji Bukan Nonton Konser!

Minggu, 12 April 2026 | 03:10

Lebaran Betawi Bukan Sekadar Seremoni Pasca-Idulfitri

Minggu, 12 April 2026 | 02:41

Wapres AS Tatap Muka Langsung dengan Delegasi Iran di Islamabad

Minggu, 12 April 2026 | 02:03

Petugas Terlibat Peredaran Narkoba di Rutan Bakal Dipecat

Minggu, 12 April 2026 | 02:00

Andre Rosiade: IKM akan Menjadi Mitra Konstruktif Pemda

Minggu, 12 April 2026 | 01:46

Selengkapnya