Berita

Ilustrasi/Net

Nusantara

Produksi Cabai Rawit Merah Sebenarnya Surplus

JUMAT, 13 JANUARI 2017 | 00:24 WIB | LAPORAN:

. Kenaikan harga cabai rawit merah beberapa pekan terakhir ini cukup menjadi bahan sorotan masyarakat. Presiden Joko Widodo sendiri mengatakan kenaikan harga cabai rawit terjadi karena faktor cuaca buruk. Akibatnya, harga cabe rawit merah tembus hingga Rp 100 ribu per kilogram.

Menurut Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian, Agung Hendriad, pasokan cabai rawit merah selama tahun 2016 kemarin sebenarnya surplus. Dari data yang dihimpun oleh Kementerian Pertanian diketahui bila hingga Desember 2016 produksi cabai rawit merah mencapai 61.435 ron. Sementara kebutuhan hanya berkisar antara 54.346 ton. Kemudian produksi di Januari 2017 mencapai 73.757 ton dan kebutuhan masyarakat hanya berkisar di angka 68.303 ton.

"Kenaikan harga cabai rawit merah ini sifatnya hanya sementara. Biasanya terjadi saat pedagang libur di tanggal 1 dan 2 Januari 2017 kemarin. Akibatnya pasokan di pasar kurang. Padahal untuk produksi di skala nasional sangat cukup," jelas Agung kepada Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta (Kamis, 12/1).


Kata Agung, kenaikan harga cabai rawit merah ini paling banyak terjadi di wilayah Jabodetabek. Tapi akhirnya berdampak ke wilayah lain di tanah air, seperti Yogyakarta dan daerah lain yang memang bukan sebagai sentra produksi cabe.

Agung menjelaskan bila konsumsi masyarakat untuk cabai rawit merah hanya berkisar 10 persen dari konsumsi cabe keseluruhan. Namun yang pasti, Kata Agung, pihaknya telah mengantisipasi kenaikan ini. Diantaranya dengan menerjunkan tim khusus untuk memeriksa kenaikan bahan pangan ke pasar.

"PPI di bawah Kementerian BUMN juga sudah bergerak dengan operasi pasarnya. Mereka menjual harga cabai rawit merah dengan harga 82.500 per kilogram," jelas Agung.

Agar kejadian serupa tidak terulang kembali, Agung jelaskan bila pihaknya tengah membangun 1.000 toko tani diseluruh wilayah Jabodetabek. Selain itu, Kemtan juga tengah mendorong masyarakat melalui PKK agar menanam cabai untuk keperluan sendiri. Benih dan plastik wadah disebarkan kepada warga.

Meski demikian, Agung meminta pemerintah pusat memperbaiki infrastruktur  dan moda transportasi diseluruh wilayah Indonesia. Terutama yang menjadi sentra produksi bahan pangan.

"Tujuannya untuk memperlancar distribusi pasokan pangan dari sentra produksi ke pasar induk," tutup Agung. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya