Berita

Joko Widodo/Instagram

Publika

Seandainya Pun Ayah Joko Widodo Adalah Seorang Cina/PKI, So What?

KAMIS, 12 JANUARI 2017 | 09:27 WIB

HEBOH gara-gara buku "Jokowi Undercover" oleh Bambang Tri Mulyono membasahkan kembali ingatan saya akan kekejaman yang pernah dilampiaskan oleh rezim Orde Baru pimpinan Jenderal Besar Suharto (almarhum).
Ketika sedang jaya-jayanya berkuasa tanpa ada yang berani membantah atau menyangkal (kecuali barangkali gerakan Petisi 50 pimpinan mantan Gubernur Jakarta Jenderal (P) Ali Sadikin (alm), rezim Orba dapat berbuat sekehendak hati.

Dan salah satu tindakan pembersihan (terhadap oknum komunis) yang dilampiaskian adalah "menggugurkan hak kemanusiaan mereka" yang "lingkungannya" dianggap tidak bersih, artinya mereka adalah keturunan (cucu atau bahkan cicit) dari orang-orang yang dituding atau dicurigai atau disinyalir punya sangkutpaut dengan PKI.

Padahal mereka-mereka yang mengaku anti PKI tersebut pada gilirannya pernah meneriakkan "Hidup Nasakom!" (Nasionalisme, Agama, Komunis) dengan segetol-getolnya.

Padahal mereka-mereka yang mengaku anti PKI tersebut pada gilirannya pernah meneriakkan "Hidup Nasakom!" (Nasionalisme, Agama, Komunis) dengan segetol-getolnya.

Begitulah dalam kehidupan ini memang banyak sekali yang dengan mudah berubah haluan dan pendirian, laksana pucuk eru, yang melentur sesuai arah angin.

Kalau kita renungkan dalam-dalam, maka tidaklah adil apabila seorang anak yang sama sekali tidak pernah meminta untuk dilahirkan namun kemudian tampil di dunia berkat qodrat iradat Ilahi, lantas dibebani secara melekat dengan dosa atau dosa-dosa orang tuanya. Pada hal belum tentu anak seorang maling niscaya akan menuruti jejak orang tuanya dan kemudian menjadi maling juga, dan sebaliknya belum tentu anak seorang alim pasti akan menjadi ulama atau ustadz atau mubaligh.

Alhamdulillah dalam kasus-kasus seperti ini Islam (Al Qur’an) sudah "antisipatif", sebagaimana halnya dengan berbagai persoalan kehidupan lainnya.

Penggalan dalam Surah Al-Baqarah (II:286) menjelaskan:

"Baginya (pahala) apa yang dia kerjakan dan dia mendapat (siksa dari kejahatan) yang dia kerjakan.”

Orang tua-tua kita menyebutnya dengan indah sesuai peribahasa:
"Tangan menyencang bahu memikul”.

Kesalahan si A tidak bisa ditimpakan kepada si B. Oleh sebab itu siapa pun ayah atau ibu Presiden Joko Widodo tidak menjadi soal. Yang terpenting adalah "Siapa Joko Widodo?"

Kalau kini ada yang ingin mencemarkan nama baik Presiden Joko Widodo melalui silsilahnya, maka itu sama saja dengan perbuatan tercela rezim Orde Baru. Sikap ini terutama harus dijunjung oleh mereka yang mengaku Muslim.

Bahkan sementara Umat Kristen pun yang pernah saya ajak berbincang-bincang lewat obrolan antar/lintas agama menolak untuk meyakini secara harfiah ayat-ayat dalam Perjanjian Lama yang mungkin saja telah dijadikan dasar pembenaran oleh Rezim Orba ketika mereka dengan buasnya melampiaskan angkara murka mereka terhadap orang-orang yang dinilai atau disangka/dicurigai tidak bersih lingkungan.

Salah satu dari ayat-ayat Perjanjian Lama tersebut kita temui dalam Bab Keluaran 20:5 yang berbunyi:

"Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku."

Salah satu penjelasan yang pernah saya dengar dari seorang peserta Bible Study” (gerakan pengajian Bible) adalah bahwa yang dimaksud dari "keturunan yang ketiga dan keempat" itu adalah para turunan yang tidak bertaubat, melainkan meneruskan dosa-dosa para pendahulu mereka, sedangkan mereka yang kembali ke jalan yang benar niscaya diampuni.

Sebenarnya bukan Presiden Joko Widodo saja yang pernah diragukan silsilah jatidirinya. Masih segar dalam ingatan kita ketika dalam kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat baru-baru ini, salah seorang calon, Donald Trump, terus mengobarkan kesangsiannya bahwa Presiden Barack Hussein Obama adalah warganegara Amerika.

Selama 5 tahun Donald Trump dan sejumlah pengamat/politisi di Amerika meragukan bahwa Barack Obama adalah warganegara Amerika yang memenuhi syarat untuk menjadi Presiden Negara adhidaya

Undang-undang Dasar Amerika mengatur bahwa hanya seseorang yang dilahirkan di Amerika Serikat yang memenuhi syarat untuk menjadi presiden.

Itulah sebabnya ketika Partai Republik sempat kebingungan mencari tokoh yang dianggap mampu mengimbangi atau bahkan mengalahkan Bill Clinton, mereka melirik orang yang waktu itu sedang populer sebagai Gubernur Kalifornia, Arnold Schwarzenegger. Mantan binaragawan dan aktor sohor ini lahir di Austria. Meski Presiden Barack Obama mampu membuktikan secara lengkap dan dengan dokumentasi bahwa dia dilahirkan di Hawai (sebuah negara bagian Amerika) namun masih saja banyak yang meragukannya.

Barulah pertengahan September 2016 Donald Trump menyudahi apa yang di Amerika dikenal sebagai "birtherism controversy” (silang pendapat mengenai kelahiran) yang menyangkut diri Barack Obama.

Bagaimana pun segala tudingan dan bahkan fitnah mengenai negara kelahiran Presiden Barack Obama itu tidak begitu digubris oleh yang langsung bersangkutan dan dirugikan, dalam hal ini Presiden Barack Obama sendiri. Tidak terdengar ada buku atau tulisan yang dilarang dan sumbernya kemudian dikriminalisasi oleh pihak berwajib karena memfitnah sang Presiden. Tidak ada penyiar radio maupun televisi yang secara lancang terus mengobarkan fitnah seperti itu yang digugat. Pada akhirnya memang kebenaran juga yang unggul.

Lalu bagaimana dengan nasib "Jokowi Undercover?”, khususnya lagi bagaimana nasib penulisnya yang sudah banyak menghabiskan waktu, tenaga dan duit, untuk menerbitkan bukunya itu?

Akankah dia dihukum, ataukah mungkin Presiden Joko Widodo sendiri lebih memilih untuk mempermalukan Bambang Tri Mulyono dengan menjalani pengujian lewat DNA? Wallahu a’lam.[***]


Nuim M. Khaiyath

Mantan broadcaster Radio Australia Siaran bahasa Indonesia di Melbourne, Australia
Buku terakhir ditulis penulis  berjudul 'Membongkar Kesaktian Israel' diterbitkan Cakrawalka tahun 2014.

 


 

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya