Berita

Priyono Hadi/RMOL

Politik

Mental Bangsa Dimulai Dari Buku

MINGGU, 08 JANUARI 2017 | 17:51 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pendidikan mental bangsa dimulai dari buku. Mental bangsa seperti apa yang akan ditanamkan generasi penerus bisa dilihat dari buku-buku yang diterbitkan ketika anak-anak masih dalam fase belajar.

"Dalam konteks ini, penerbit memegang peranan penting dan sekaligus bertanggung jawab dalam pendidikan serta perkembangan pendidikan mental bangsa. Oleh karena itu, penerbit buku tidak boleh berperilaku seperti toko buku yang sering mengabaikan konten buku," kata mantan Direktur Penerbitan Penerbit Kanisius Yogyakarta JB Priyono Hadi dalam pertemuannya dengan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro di Yogyakarta.

Penerbit Kanisius Yogyakarta adalah penerbit tertua di Indonesia yang berdiri pada 26 Januari 1922.
 

 
Dijelaskan Priyono, semua anak akan mengalami fase belajar. Dalam fase belajar ini yang paling banyak menjadi sorotan orang tua adalah fase belajar membaca karena di situlah pintu gerbang utama anak untuk memasuki dunia luas.

"Kekeliruan dalam menghidangkan konten kepada anak dalam buku yang dibaca akan berdampak panjang pada pendidikan serta perkembangan anak yang kelak kemudian hari juga berdampak pada masa depan bangsa," katanya kepada redaksi, Minggu (8/1).
 
Semua anak, di manapun akan dan harus belajar membaca. Dengan membaca itulah, pintu gerbang dunia luas terbentang. Namun yang menjadi permasalahan, buku apa yang dibaca dan apa isinya.

"Pemerintah dan tokoh nasional harus peka soal ini karena terkait dengan masa depan bangsa dan negara. Penerbitan buku bukan soal proyek tetapi soal masa depan bangsa,” ujar Priyono.
 
Jika saat ini bangsa Indonesia resah dengan masa depannya, demikian ditambahkan Priyono, pertama kali yang harus dilakukan adalah melihat kembali terbitan buku anak-anak sekolah setidaknya dalam dua dasa warsa ini ke belakang. Atau juga orang tua yang resah dengan perkembangan anak-anaknya ketika menginjak masa akil balik disarankan untuk melihat kembali buku-buku apa saja yang sudah dibaca sejak pendidikan taman kanak-kanak.

Priyono meyakini, dengan mereview semua buku terbitan 20 tahun yang lalu, bangsa ini akan menemukan akar permasalahan yang sekarang dihadapi.
 
"Apa yang dibaca oleh anak ketika masih tahap belajar akan tertanam selama pertumbuhannya dan menjadi pegangan dalam pendidikan selanjutnya. Keprihatina terjadi ketika konten kemudian menjadi tidak penting ketika penerbitan sebuah buku menjadi sebuah proyek. Atau juga, pemerintah atau instansi terkait tidak memberi pengawasan secara benar atas sebuah naskah yang diterbitkan. Tanpa disadari, masa depan bangsalah yang sebenarnya dipertaruhkan. Dan ini merupakan awal dari seluruh permasalahan bangsa ini dalam 20 tahun kemudian," jelasnya.
 
Lebih jauh, permasalahan serius muncul ketika sebuah penerbit kemudian juga berperilaku seperti toko buku yang dipatok oleh target dan kemudian melakukan berbagai strategi pemasaran berbasiskan target rupiah. Penting bagi sebuah penerbit memiliki dan berpegang teguh pada visi misi untuk ikut mencerdaskan dan sekaligus  dalam pembangunan mental bangsa.
 
"Visi misi itu merupakan komitmen. Oleh karena itu, visi misi itu harus dipegang teguh oleh generasi baru pengambil keputusan sebuah institusi penerbitan. Hanya dengan cara demikian, sebuah penerbitan ikut serta dalam pembangunan mental bangsa. Jika hal itu tidak dilakukan, sebuah buku hanya akan menjadi sebuah proyek dan kelak kemudian masa depan bangsa yang dipertaruhkan," demikian Priyono. [wah]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya