Berita

Politik

58 Kandidat Terindikasi Politik Dinasti Di Pilkada 2017

JUMAT, 06 JANUARI 2017 | 07:57 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Politik dinasti masih mewarnai gelaran Pilkada serentak 2017 yang diselenggarakan pada 15 Februari 2017.

Dirjen Otda Kemendagri, Sumarsono mengungkapkan setidaknya dari 101 daerah peserta Pilkada terdapat 58 pasangan calon kepala daerah yang terindikasi oleh politik dinasti.

"Kalau dilihat peserta Pilkada 58 ada hubungan keluarga dari 101. Ada indikasi. Itu separuh lah. Itu ada hubungan adik, kakak, ba', menantu dan seterusnya pasti ada," ujar Soni di Jakarta, Kamis (5/1).


Pria yang juga menjabat plt gubernur DKI Jakarta ini menilai politik dinasti sangat merusak sistem pemerintahan yang ada. Disamping memang kontrol dan pengawasannya sangat longgar sehingga menyebabkan rawan penyalahgunaan wewenang.

"Ketika kita tahu adik kita bupati itu salah, maka ada hambatan psikologis untuk menghukum keluarga itu sendiri. Lalu bisa juga barbagi rezeki karena ada hubungan keluarga," jelas dia seperti dilansir dari RMOL Jakarta.

Dan untuk meminimalisir kasus korupsi, lanjut Soni, pemerintah sudah menekankan agar kepala daerah menerapkan e-government dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga publik dapat melakukan kontrol secara terpadu.

"Semua berbasis teknologi dan transparansi. Mulai dari e-planning, e-budgeting, e-monitoring dan seterusnya. Secara gampang seperti DKI bisa dibuka APBD-nya di Bappeda DKI," terang Soni

Selain itu, masih kata Soni, Kemendagri terus memberikan pemahaman kepada daerah mengenai area rawan korupsi dan pencegahannya, baik melalui training, orientasi maupun bimbingan teknis. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Pemerintah Hadirkan Tsunami Ekonomi Kelas Menengah

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:14

KPK Panggil 10 Saksi dalam Kasus Gratifikasi IUP Kutai Kartanegara

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:06

ASII Siapkan Hingga 100 Juta Saham untuk Program MSOP

Kamis, 11 Juni 2026 | 14:04

Segera Matangkan Regulasi Kebijakan Ekspor Satu Pintu

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:59

BrahMos Masuk Indonesia, Pemerintah Perlu Hitung Ulang Prioritas Anggaran

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:57

Pangdam Mandala Trikora Buka Suara di Tengah Isu Kasus Mama Sinta

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:48

Menhub Dipanggil Prabowo ke Istana, Bahas TBA Tiket Pesawat?

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Model Fitri Assiddikki Dipanggil KPK terkait Korupsi CSR BI

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:41

Lahan 2,4 Hektare Bekas BPSDM akan Disulap jadi Pusat Bisnis

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:38

Kenaikan Pertamax Berpotensi Jadi Bumerang bagi Pemerintah

Kamis, 11 Juni 2026 | 13:30

Selengkapnya