Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

PLTGU Jawa 1 Bukti PLN Banyak Masalah

KAMIS, 05 JANUARI 2017 | 21:32 WIB | LAPORAN:

Keterlambatan penandatanganan kontrak salah satu proyek 35 ribu MW, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1 semakin membuktikan bahwa PLN memiliki banyak persoalan internal.

Direktur Center fo Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi menjelaskan, hal itu juga menunjukan banyak kepentingan di dalam internal PLN sendiri.

Mereka itu, lanjut dia, bukannya mengelola manajemen, pelayanan, dan bisnis dengan baik, melainkan 'bermain' sendiri-sendiri.


"Jadi ada yang mengejar rente dan itu merugikan pihak lain termasuk masyarakat.  Kalau begitu, sebenarnya buat apa dilakukan lelang? Sekalian saja tidak usah dilakukan,” kata Uchok di Jakarta, Kamis (5/1).

Dalam kaitan inilah Uchok mendesak DPR untuk segera memanggil PLN dan meminta penjelasan. Bahkan, lanjut dia, pemanggilan juga bisa melalui lintas komisi dengan sekaligus memanggil Ombudsman Republik Indonesia (ORI).

Dari sana, DPR bisa meminta ORI untuk melakukan pemeriksaan langsung di lapangan dan menentukan, apakah PLN melakukan maladministrasi atau tidak.

Pemeriksaan terkait dugaan maladministrasi, menurut Uchok memang sangat dimungkinkan, karena dalam kasus ini PLN sudah menentukan pemenang tender.

Dengan demikian, sudah menjadi kewajiban PLN untuk segera menindaklanjuti proses tersebut agar tidak menghambat pelayanan kepada pemenang tender.

Tidak hanya itu. kata Uchok lagi, keterlambatan ini juga tidak menutup kemungkinan memasuki ranah hukum. Terlebih, ditengarai bahwa salah satu alasan penundaan kontrak, karena PLN hingga sekarang gagal memperoleh komitmen pasokan LNG.

"DPR bisa mendesak KPK untuk memulai penyelidikan terhadap kasus ini,” lanjutnya.

Uchok menambahkan, sikap tegas memang perlu dilakukan terhadap PLN. Pasalnya, bukan sekali ini saja PLN melakukan tindakan yang memperjelas buruknya kinerja mereka.

"Pembangkit tidak beres, listrik pun hidup mati. Buruk sekali kinerja PLN,” kata dia. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Jepang Akui Otonomi Sahara Solusi Paling Realistis

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:21

Pencanangan HUT Jakarta Bawa Mimpi Besar Jadi Kota Global

Minggu, 10 Mei 2026 | 12:02

Warga Jakarta Kini Wajib Pilah Sampah Jadi 4 Kategori, Ini Daftarnya

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:40

Kritik Amien Rais Dinilai Bermuatan Panggung Politik

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:30

Pramono Optimistis Persija Menang Lawan Persib

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:18

Putin Klaim Perang Ukraina Segera Berakhir, Siap Temui Zelensky untuk Damai

Minggu, 10 Mei 2026 | 11:10

JK Negarawan, Pemersatu Bangsa, dan Arsitek Perdamaian Nasional yang Patut Dihormati

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:48

BMKG-BNPB Lakukan OMC Kendalikan Potensi Karhutla di Sumsel

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:41

Israel Bangun Pangkalan Militer Rahasia di Gurun Tanpa Sepengetahuan Irak

Minggu, 10 Mei 2026 | 10:23

KPK Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Anggota BPK Haerul Saleh

Minggu, 10 Mei 2026 | 09:44

Selengkapnya