Berita

Net

Hukum

KPK Perpanjang Penahanan Tersangka Kasus Suap Bakamla

SELASA, 03 JANUARI 2017 | 17:51 WIB | LAPORAN:

Bekas Deputi Informasi, Hukum, dan Kerja Sama Badan Keamanan Laut Eko Susilo Hadi dan dua pegawai PT Melati Technofo Indonesia (MTI) Hardy Stefanus, dan M. Adami Okta bakal meringkuk lebih lama di rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pasalnya, penyidik memperpanjang masa penahanan ketiga tersangka kasus dugaan suap proyek pengadaan satelit monitoring di Bakamla.

"Terhadap tiga tersangka di kasus Bakamla dilakukan perpanjangan tahanan oleh JPU (jaksa penuntut umum)," ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di kantornya, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa (3/1).


Ketiganya sudah ditahan sejak 15 Desember lalu. Perpanjangan penahanan dilakukan setelah masa tahanan selama 20 hari pertama segera berakhir.   

"Diperpanjang selama 40 hari, dari tanggal 4 Januari sampai dengan 12 Februari 2017," tambah Febri.

Kasus suap ini terbongkar ketika KPK menangkap tangan Eko Susilo Hadi bersama Hardy Stefanus dan M. Adami Okta pada 14 Desember 2016. Dalam operasi tangkap tangan (OTT), KPK mengamankan Rp 2 miliar dalam mata uang dolar AS dan dolar Singapura dari tangan Eko. Uang diduga berkaitan dengan proyek pengadaan satelit monitoring senilai Rp 220 miliar di Bakamla.

Direktur Utama PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah diduga sebagai sumber dana suap. Suami artis Inneke Koesherawati itu diketahui berencana mengakuisisi PT MTI yang memenangkan tender satelit monitoring.

EKo pun ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Dia disangka melanggar pasal 12 huruf (a) atau pasal 11 Undang-Undang 31/1999 sebagaimana diubah dalam UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto pasal 64 ayat 1 KUHP.

Sementara, Fahmi, Hardy dan Adami dijadikan tersangka pemberi suap. Mereka dijerat dengan pasal 5 ayat 1 a atau b atau pasal 13 Undang-Undang 31/1999 sebagaimana diubah dalam UU 20/2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Dalam perkembangannya, Direktur Data dan Informasi Bakamla Laksamana Pertama (Laksma) Bambang Udoyo (BU) ditetapkan sebagai tersangka oleh Pusat Polisi Militer TNI. Laksma Bambang adalah pejabat pembuat komitmen dalam pengadaan satelit monitoring Bakamla.

Puspom TNI sempat menggeledah kediaman Laksma Bambang. Dari sana, mereka menemukan barang bukti berupa uang sebesar SGD 80 ribu, USD 15 ribu yang diduga masih berkaitan dengan kasus suap. [wah]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya