Berita

Foto: RMOL

Politik

Keresahan Anak Bangsa Yang Bekerja Di Vatikan

JUMAT, 30 DESEMBER 2016 | 19:52 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Seorang pejabat di Vatikan, yang satu-satunya berasal dari Indonesia, menyatakan kegundahannya mengikuti perkembangan relasi antar umat beragama di Indonesia belakangan ini. 

Anak bangsa yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini tidak tahu 'roh' jenis apa yang sedang merasuki Indonesia sehingga mampu merusak keindahan kebersamaan yang dulu ada.
 
"Saya menyatakan ini bukan atas nama pemerintah Vatikan. Saya menyatakan ini atas nama pribadi sebagai anak bangsa. Saya sungguh sedih dan bercampur cemas menyaksian apa yang terjadi di Indonesia saat ini," ujar Romo Markus Solo Kewuta SVD dalam pesannya melalui Whatsapp dari Vatikan, Kamis (28/12).
 

 
Lebih lanjut dalam pesannya, Romo Markus menjelaskan bahwa dirinya mengikuti perkembangan negara sejak Oktober. Dia melihat bahwa relasi antar umat beragama yang sejak lama diapresiasi dunia sebagai contoh terbaik di land of harmony (tanah yang harmoni) sedang mengalami ujian yang berat.
 
"Entah roh apa yang memutarbalikkan  keindahan kebersamaan kita ini. Krisis relasi dalam masyarakat itu bisa terjadi. Tetapi janganlah kita menganggapnya sebagai suatu yang biasa dan boleh terjadi," ujar romo yang menguasai enam bahasa asing termasuk Arab.
 
Romo Markus Solo yang bekerja di Kantor Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Agama itu, menegaskan, pembiaran akan bermuara pada situasi yang kronis dan berbahaya. Oleh karena itu ia mengajak seluruh komponen bangsa, untuk saling memaafkan sebagai anak-anak Satu Nusa,  Satu Bangsa dan Satu Bahasa, sebagai pewaris satu negeri besar yang indah permai.
 
"Kita semua cuma manusia biasa yang mudah jatuh dalam kesalahan. No man is perfect, no man is an angel," tegasnya.
 
Oleh karena itu, dijelaskannya lebih lanjut, belajar dari ketidaksempurnaan masing-masing sebagai manusia, dihrapakan semua orang menyorongkan sorong hati dan menyorongkan tangan untuk saling mengampuni dan saling memaafkan untuk memulai hidup baru.
 
"Sesungguhnya betapa indah saling memaafkan dan rekonsiliasi. Situasi saling memaafkan itu  ibarat lahan subur tempat tumbuhnya bibit-bibit baru yang menghasilkan sebuah taman indah dan menakjubkan, sumber sukacita dan kedamaian sejati," katanya.
 
Menurut kacamata romo yang berasal dari Desa Lewouran, Flores Timur itu, sebagai orang-orang beriman, sesungguhnya pengampunan dan upaya perdamaian yang tulus ikhlas seharusnya tidaklah sulit. Cukup saja menerapkan prinsip emas dalam setiap agama besar dunia, 
 
"Prinsip emas itu pada intinya tidak melakukan sesuatu kepada orang lain kalau hal itu tidak ingin dilakukan orang lain kepada kita. Atau dalam rumusan positip dapat diterjemahkan dengan kalimat - lakukanlah sesuatu yang baik kepada orang lain yang anda juga ingin kalau hal baik itu dilakukan kepadamu," tegas Romo yang juga menguasai bahasa  Italia, Inggris, Jerman, Mandarin, dan Latin
 
Baginya krisis yang berasal dari kata Yunani itu merupakan sebuah awal baru. Kata krisis itu sendiri adalah keputusan. Oleh karenanya, dia mendesak agar diakhiri segala perseteruan antar anak bangsa dan menghentikan segala jalan atau cara yang saling menjerat dan menjatuhkan.
 
"Dan yang paling penting adalah, reputasi kita janganlah digadaikan demi kepentingan-kepentingan pribadi dan sementara yang ujung-ujungnya hanya membawa petaka besar bagi rakyat miskin dan harganya tidak mungkin akan dibayar dengan apapun. Contohnya sudah banyak."
 
Di akhir pesan, Romo Markus Solo menegaskan, semua anak bangsa di Indonesia ingin dan cinta perdamaian di dalam NKRI di atas dasar Pancasila dan UUD 1945. Harga mati itu, menurut Romo Markus itu harus dijaga dan diwujudkan bersama.[wid]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Pencalonan Kaesang di Solo Raya Sinyal Perang Terbuka PSI vs PDIP

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Araghchi Ancam Balas Serangan Ukraina ke Kapal Dagang Iran

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Istana Tegaskan Mundurnya Perry Warjiyo Murni Keputusan Pribadi

Senin, 27 Juli 2026 | 10:13

Kejaksaan Harus Jawab Klaim Kriminalisasi Febrie dengan Bukti

Senin, 27 Juli 2026 | 10:04

KPK Dalami Aliran Dana yang Diduga Disiapkan Bupati Kuansing untuk Raja Juli

Senin, 27 Juli 2026 | 09:57

Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Perlu SOP yang Ketat

Senin, 27 Juli 2026 | 09:51

IHSG Merah, Rupiah Ambruk ke Rp17.976 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Senin, 27 Juli 2026 | 09:47

Kasatnarkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Senin, 27 Juli 2026 | 09:37

Pengamat: Sulit bagi Kaesang dan PSI Kuasai Solo Raya

Senin, 27 Juli 2026 | 09:34

Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Perry Warjiyo di Kepemimpinan Bank Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 | 09:25

Selengkapnya