Berita

RMOL

Bisnis

Konsorsium Eric Tohir Suntik Strukturisasi Bumiputera Rp 2 Triliun

KAMIS, 29 DESEMBER 2016 | 04:00 WIB | LAPORAN:

Konsorsium yang dipimpin konglomerat Eric Tohir menyuntikkan dana Rp 2 Triliun dalam skema strukturisasi penguatan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera.

"Konsorsium yang masuk dipimpin Eric Tohir dalam skema strukturisasi PT AJB Bumiputera," kata Koordinator Pengelola Statuter AJB Bumiputera, Didi Achdiat di Jakarta, Rabu (28/12).

Achdiat menambahkan, skema trukturisasi yang dilakukan akan menjaga, melindungi hak-hak sekitar enam juta pemegang polis, sekaligus memberi landasan bagi Bumiputera menjadi perusahaan lebih kuat dan berkembang.


Menurut Achdiat, skema strukturisasi ini didasarkan penilaian kondisi keuangan AJB Bumiputera yang setiap tahunnya, jumlah nilai klaim AJB Bumiputera lebih besar dari penerimaan aset tunai dari penerimaan premi.

"Kondisi ini jika dibiarkan berlanjut, semakin membebani kinerja keuangan perusahaan," terangnya.

Berdasarkan kondisi ini, upaya penguatan dilakukan melalui PT Bumiputera 1912 yang sahamnya dimiliki Pasific Multi Investama, anak perusahaan PT Evergreen Invesco Tbk (GREN). PT Bumiputera 1912 yang merupakan holding company memiliki dua perusahaan, yakni Bumiputera Investama Indonesia dan Bumiputera Properti Investama. Kedua perusahaan ini dibentuk untuk memisahkan pengelolaan aset finansial dan properti AJB Bumiputera yang merupakan salah satu bagian dari skema strukturisasi.

Bumiputera Investama Indonesia selanjutnya memiliki dua anak perusahaan yang akan menjalankan bisnis asuransi, yakni PT Asuransi Jiwa Bumiputera (PT AJB) dan PT Asuransi Jiwa Syariah Bumiputera (PT AJSB).

"Melalui skema ini, penjualan produk asuransi baru selanjutnya akan dilakukan PT AJB dan PT AJSB, sedangkan AJB Bumiputera hanya akan meneruskan memberikan pelayanan kepada para pemegang polis yang sedang berjalan hingga klaimnya jatuh tempo," kata Achdijat.

"AJB juga akan bertindak sebagai administrator klaim dan premi AJB Bumiputera dengan model kerjasama profit sharing sebesar 40 persen dalam jangka waktu minimal 12 tahun," paparnya.

Ditambahkannya, PT AJB sendiri sudah mendapat komitmen penambahan modal sebesar Rp 2 Triliun dari investor yang akan terealisasi pada Maret mendatang.

"Dengan cara ini akan tersedia cukup uang tunai di AJB Bumiputera untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya yang telah jatuh tempo di tahun 2017 mendatang, serta tahun tahun berikutnya karena perputaran dana hasil investasi. Melalui skema penguatan AJB Bumiputera seperti ini, maka tidak tergantung rencana right issue (penjualan saham terbatas) yang akan dilakukan Evergreen," terangnya.

Pemilahan aset financial dan aset properti juga diharapkan membuat lebih efisien beban keuangan selain untuk mendapatkan uang tunai. Sebabnya, PT Bumiputera Properti Investama akan membeli aset-aset properti milik tiga anak perusahaan AJB Bumiputera senilai RP 3,2 Triliun.

"Skema restrukturisasi ini telah kami laporkan dan mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan sebagai bagian dari tugas utama kami melakukan strukturisasi menyeluruh memperkuat kondisi keuangan perusahaan dan memastikan terselenggaranya kegiatan operasional perusahaan.secara baik dan lancar," terangnya.

Terkait masuknya konsorsium yang dipimpin Eric Tohir, Didi Achdiat mengungkapkan, opsi strukturisasi merupakan.pilihan yang tepat dari sejumlah pilihan yang ada.

"Karena kalau bisa dijual puluhan triliun dan digunakan membayar kewajiban, siapa yang mau membeli. Karena dijual satu sen pun tak ada yang mau mengingat perusahaan mengalami defisit puluhan triliun," terangnya.

Sementara itu, pengelola statuter Bidang SDM, Umum dan Komunikasi Adhie M. Massardi menegaskan agar pemegang polis tidak perlu resah, karena seluruh kewajiban akan dipenuhi.

"Jadi tidak benar masalah yang terjadi di Bumiputera ini merupakan bola panas, malah bisa menjadi bola salju, mengingat di Bumiputera kita memiliki sumberdaya manusia sebanyak 28 ribu agen terlatih PT AJB, brand image dan IT sistem serta aset yang bisa direvitalisasi," pungkasnya. [wah]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya