Berita

Jaya Suprana

Makna Hari Natal

MINGGU, 25 DESEMBER 2016 | 07:46 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

BANYAK tafsir mengenai makna Hari Natal. Saya pribadi terkesan pada makna yang tersurat dan tersirat pada kisah orang Majus yang ke empat.

Menurut kisah indah itu, sebenarnya orang Majus bukan berjumlah tiga namun empat. Nama orang Majus ke empat tersebut adalah Artaban.

Sebenarnya Artaban merencanakan dirinya akan bergabung dengan tiga teman-teman untuk mengikuti Bintang demi menemukan titik-lokasi di mana bayi Jesus Kristus dilahirkan. Artaban adalah seorang hatawan mahakayaraya maka di samping membawa bekal sekantong permata untuk biaya perjalanannya, juga membawa sebuah berlian 20 karat khusus untuk dipersembahkan sebagai kado Natal kepada bayi Jesus Kristus. Sayang seribu sayang, Artaban gagal bergabung ke teman-temannya akibat di tengah perjalanan terpaksa berhenti menolong dan merawat seorang tak dikenal yang menjadi korban perampokan di tengah padang pasir.


Setiba di Bethlehem, ternyata bayi Jesus Kristus sudah diungsikan ke Mesir demi menghindari pembantaian bayi lelaki oleh aparat keamanan Raja Herodes yang ngotot ingin membunuh sang juru-selamat yang baru dilahirkan. Akibat tidak tahu bayi yang mana yang Jesus Kristus maka Herodes mengeluarkan SP pembinasaan semua bayi lelaki yang berada di Bethlehem dan sekitarnya. Di lokasi peristiwa mengerikan itu, Artaban menyelamatkan seorang ibu dan bayinya dengan menyuap permata kepada satpol PP Herodes agar tidak membunuh bayi lelaki sang perempuan naas.

Kemudian Artaban melanjutkan perjalanan demi menyusul bayi Jesus Kristus di Mesir. Namun di tengah perjalanan Artaban singgah di sebuah desa dengan penduduk miskin serta banyak penderita penyakit kusta. Artaban bukan menggusur rakyat miskin penderita kusta di dusun itu, namun malah berhenti di sana untuk membantu rakyat miskin mendirikan koperasi, sekolah, puskesmas, sanggar kesenian, sistem irigasi, rumah deret mirip dengan yang dilakukan Sandyawan Sumardi di Bukit Duri agar rakyat miskin di desa di tengah padang pasir itu mampu secara mandiri mengentaskan diri dari kubangan kesengsaraan.

Tanpa terasa, Artaban menghabiskan waktu di desa kumuh tersebut sampai lupa dengan tujuan mencari bayi Jesus Kristus. Puluhan tahun kemudian, Artaban yang sudah manula mendengar berita lewat medmul (media mulut ke mulut) bahwa Jesus Kristus ditangkap atas berbagai tuduhan termasuk tuduhan makar di Yesusalem. Artaban sudah kehabisan bekal permata demi membiayai pembinaan desa kumuh di tengah padang pasir, kecuali satu yang tersisa yaitu berlian 20 karat yang sejak semula memang direncanakan akan dipersembahkan ke bayi Jesus Kristus. Maka Artaban bergegas ke Yerusalem untuk untuk menyerahkan berlian 20 karat kepada Jesus Kristus yang sangat dicintai secara batiniah meski belum pernah berjumpa secara ragawiah.

Ketika melihat Jesus Kristus sudah dipaku di tiang salib di bukit Golgotha, Artaban bergegas berupaya mendekati tiang salib untuk menyerahkan berlian 20 karat kepada Jesus Kristus. Mendadak Artaban melihat seorang perempuan sedang menangis akibat ketakutan akan diperkosa oleh serdadu Romawi yang pada masa itu memang banyak berkeliaran di Jerusalem yang memang sedang dijajah Romawi. Terpaksa Artaban menyuap sang serdadu TNR (Tentara Nasional Romawi) dengan berlian 20 karat agar membatalkan rencana memerkosa sang perempuan malang.

Karena merasa malu tidak memiliki apapun untuk dipersembahkan kepada Jesus Kristus, Artaban putus asa dan batinnya sedemikian terpukul sehingga tubuh renta dimakan usianya lemah-lunglai lalu tersungkur jatuh demi siap meninggalkan dunia fana. Mendadak Artaban mendengar suara di lubuk sanubarinya  "Janganlah sedih, Artaban. engkau telah berulang kali berjumpa dengan aku".

Lalu tampil di lubuk sanubari tampil sang korban perampokan di tengah padang pasir yang ditolong Artaban, ibu dan bayinya yang diselamatkan Artaban di Bethlehem, serta segenap rakyat miskin di desa kumuh yang dibina Artaban, disertai sabda Jesus Kristus "Mereka semua itu adalah Aku!".

Artaban menghembuskan nafas terakhir dengan rasa bahagia setelah sadar bahwa ternyata telah berulang kali berjumpa Jesus Kristus pada saat dirinya mempersembahkan kasih-sayang kepada sesama manusia. Selamat Hari Natal. [***]


*Penulis adalah pembelajar makna kasih-sayang



Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya