Berita

Publika

Mencari Solusi Politik Berdimensi Hukum

KAMIS, 22 DESEMBER 2016 | 07:21 WIB

MEKANISME penyelesaian sengketa tentang ketidakcocokan antara janji kampanye dengan jasa produk pembangunan terkanalisasi menggunakan Amandemen UUD 1945. Berdasarkan Amandemen UUD 1945 dan UUD 1945 sekalipun sebenarnya tidak ada muara solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Ketidakcocokan tersebut selama ini diambil jalan keluar berupa tidak memilih kembali politikus yang mengajukan perpanjangan periode suatu pemerintahan di Indonesia.

Persoalan hukuman politik untuk tidak memilih kembali pada putaran perpanjangan periode pemerintahan yang berlangsung selama 5 tahun ke depan, itu semakin hari terasakan bersifat kurang adil dan tanpa solusi. Misalnya janji politik untuk membebaskan dari masalah byar pet pemadaman listrik dalam durasi 3 tahun, namun sudah tahun yang ketiga tidak kunjung terwujud. Kemudian dengan berbagai alasan dilakukan pembenaran bahwa perencanaan 3 tahun ketika itu tidak cocok dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Selanjutnya agenda membebaskan dari masalah byar pet pemadaman listrik diperpanjang menjadi tahun ke 5. Oleh karena satu dan lain hal, kemudian petahana terpilih kembali, namun masalah byar pet” pemadaman listrik berlanjut mundur hingga ke tahun ke 10. Pada tahun yang ke 10 pun tidak terealisasi.


Oleh karena payung hukum meyakini bahwa kegagalan suatu peristiwa proses jasa produk pemerintahan sebagai suatu momentum permakluman, maka pembenaran seperti ini menguatkan ketidakadilan tentang mekanisme penyelesaian sengketa ketidakcocokan antara janji kampanye dengan jasa produk pembangunan. Menjadikan voters sebagai korban wanprestasi, atau cidera janji-janji kampanye politik itu semakin hari semakin terasa menjadi sumber ketidakadilan yang berlarut-larut.
 
Memberikan ruang publik, agar pemimpin termaafkan oleh cidera janji-janji kontrak kampanye politik ternyata membuat berbagai masalah agenda pembangunan daerah dan nasional mangkrak bertahun-tahun tanpa solusi.

Sistem perpolitikan dan mekanisme hukum dewasa ini terkesan berat sebelah dan tidak memberikan ruang yang lebih adil untuk membangun sistem insentif guna melakukan percepatan dalam mengatasi persoalan-persoalan pembangunan. Kegagalan dalam merealisasikan kontrak politik dan pelaksanaan Undang-Undang selama ini terkesan hanya ditanggung dan dibebankan pada eksekutif level operasional lebih rendah. Oleh karena itu, persoalan politik berdimensi hukum sebagaimana diulas di atas memerlukan solusi kolektif.

Kiranya pemerintah ke depan memerlukan kehati-hatian lebih tinggi dalam memberlakukan suatu kebijakan ekonomi berdimensi politik dan hukum. Misalnya pemerintah memerintahkan, agar harga daging sapi segar eceran dalam negeri dijual di bawah harga Rp 80 ribu per kilogram. Perintah seperti ini perlu lebih dapat dipertanggungjawabkan secara politik dan hukum. Solusi tentu bukannya menggantikan harga daging sapi segar dengan harga daging sapi beku impor. Juga bukan menggantikannya dengan harga daging kerbau beku impor.[***]

Sugiyono Madelan
Peneliti INDEF dan Dosen Universitas Mercu Buana. 

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya