Berita

Bisnis

Menteri Hanif: Tolong Jangan Goreng Isu Tenaga Kerja Asing Ilegal

RABU, 21 DESEMBER 2016 | 15:22 WIB | LAPORAN:

Belakangan isu tentang tenaga kerja asing (TKA) ilegal terutama dari China kembali menyeruak. Bahkan organisasi besar seperti PBNU pun menyampaikan statement dan meminta pemerintah serius menyikapi isu TKA ilegal.

Menjawab soal itu, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengklaim pemerintah telah bertindak tegas atas TKA ilegal.

Justru Hanif berujar, berita-berita yang ada menunjukkan komitmen pemerintah dalam melakukan pengendalian TKA. Berita yang beredar di masyarakat yakni tindakan tegas pemerintah yang melakukan penangkapan TKA ilegal seperti di Tangerang, Depok dan beberapa wilayah di Indonesia lainnya. Penangkapan dilakukan oleh Imigrasi, Kepolisian dan pihak Kemenaker.


"Kita minta ketegasan pemerintah. Yang seperti ini jangan dibaca secara negatif, seolah-olah menjadi legitimasi mengenai keberadaan TKA  ilegal," ujar Hanif di Menara Kadin, Jakarta, Rabu, (21/12).

"Saya ambil contoh, misal saya nangkep TKA ilegal, komentar orang "tuh bener kan, Menaker aja sendiri nangkep kok'," kata Hanif mencontohkan.

Bukti ketegasan pemerintah, lanjut Hanif, sejauh ini di tahun 2016 telah diciduk kurang dari 700 orang TKA ilegal untuk ditindak tegas. Ini pertanda bahwa pemerintah tidak bermain-main dan menganggap soal isu TKA ilegal sangat penting.

"Tapi kita minta ke masyarakat, jangan diolah-lah, jangan digoreng-goreng berita TKA ilegal," tegas Hanif.

Terkait jumlah TKA ilegal, menurutnya bisa diterjemahkan dari berbagai sudut pandang. Hanif sendiri menjadi bulan-bulanan publik saat menyatakan jumlah TKA dari China lebih sedikit dibanding tenaga kerja Indonesia di China. TKA China di Indonesia belum sebanding dengan jumlah TKI di luar negeri. Misal TKI di China sejumlah 81 ribu, di Hong Kong 153 ribu, Macau 16 ribu dan di Taiwan paling banyak yakni 200 ribu.

"Orang pada marah. Padahal itu faktanya. Jadi ini harus dipahami secara rasional. Jangan sampai isu TKA ini dibawa-bawa kemana-kemana, sehingga membangun sentimen-sentimen yang tidak sehat bagi demokrasi kita," demikian Hanif.[zul]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Lurah Cengkareng Barat Dilaporkan ke Polisi Buntut Putusan KIP

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:36

Menteri Pigai Sebut Penyelesaian Konflik Papua Butuh Keputusan Nasional

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:25

Prabowo Diminta Segera Bentuk Satgas Penyelundupan BBL

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:56

Segera Dibentuk Satgas Anti-Kekerasan Pesantren

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:35

Tata Kelola SDA Era Prabowo Disebut Berpihak ke Rakyat

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:10

Ribuan Bobotoh Turun ke Jalan, Purwakarta Berubah Jadi Lautan Biru

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:42

Lonjakan Gila Minyakita Rapor Merah Zulkifli Hasan

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:12

PKS Ingin Cetak Pemimpin Berbasis Iman, Bukan Sekadar Kejar Kursi

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:32

Dalam Lindungan Aktor Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:59

BNI dan Kementerian PKP Sosialisasi Kresit Perumahan di Brebes

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:34

Selengkapnya