. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ingin mengubah pola penyediaan tenaga kerja yang dilakukan dari sisi supply side menjadi pendekatan demand side. Sehingga program penyediaan tenaga terampil melalui pelatihan keterampiian sebaiknya didasari pada kebutuhan tenaga oleh dunia usaha.
Pendekatan Demand Side membutuhkan kemampuan dan sistem manajemen yang kuat mengenai perencanaan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) atau manpower planning. Perencanaan kebutuhan SDM di masing-masing perusahaan -di setiap sektor di setiap wilayah (kabupaten/kota dan propinsi) dan pada akhirnya perencanaan kebutuhan SDM secara nasional.
Untuk menjawab tantangan tersebut, komunikasi antara informasi ketenagakerjaan dan pusat latihan kerja/Balai Latihan Kerja (BLK) menjadi salah satu kunci keberhasilan strategi ini.
Sementara hal hal tersebut masih memerlukan waktu untuk memperbaikinya, dunia usaha dapat berperan serta dengan membagi pengalaman untuk memberikan masukan yang positif bagi pengembangan pendidikan keterampiian dan bahkan menjadi center of excellence untuk mencetak tenaga terampil yang dibutuhkan.
Perusahaan-perusahaan yang mempunyai fasilitas pelatihan dapat menjadi partner Balai Latihan Kerja/BLK yang ada di masing-masing wilayah dan juga bisa menjadi mitra Dunia Pendidikan untuk mencetak tenaga-tenaga kompeten sesuai keahlian yang dibutuhkan. Pola kemitraan tersebut, pada akhirnya akan mencetak tenaga kerja kompeten untuk sektor industri tersebut.
"Kadin patut bertanggung jawab untuk memberikan masukan kepada pemerintah, mempromosikan dan mendorong perusahaan untuk menyeienggarakan pelatihan kerja, dan membangun kualitas dan kuantitas dari penyelenggaraan pelatihan kerja melalui pemagangan," kata Ketua Umu Kadin Rosan P. Roeslani di Menara Kadin, Jakarta, Rabu, (21/12).
Dari tanggung-jawab ini, Kadin dan Kementerian Ketenagakerjaan RI akan menyusun program, kurikulum, silabus, dan materi ajar di pelatihan berbasis kompetensi, serta bersama-sama melakukan monitoring dan evaluasi atas penyelenggaraan pelatihan terpadu secara berkala.
"Dan untuk memastikan kesinambungan peran tersebut Dunia Usaha dan Pemerintah akan segera membentuk Komite Vokasi Sektoral di setiap Daerah," jelas Rosan.
Rosan berharap melalui kemitraan yang baik dan berkesinambungan ini, dunia usaha dapat turut berperan serta dalam membangun kompetensi tenaga kerja Indonesia sehingga kedepannya Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki kapabilitas keterampilan yang sangat baik di dunia.
Bagaimana pun juga, untuk menarik investasi baru guna mengembangkan ketersediaan lapangan kerja, diperlukan tenaga kerja-tenaga kerja yang terampil dan kompeten. Tenaga kerja terampil dan kompeten ini diharapkan mampu mendorong produktivitas dan pada akhirnya meningkatkan daya saing industri yang ada di Indonesia.
[ysa]