Nilai impor bahan baku farmasi pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp 15 triliun. Jumlah tersebut sekitar 20 persen dari pasar farmasi nasional senilai Rp 70 triliun. Besar juga ya. Yuk, kita bangun pabrik bahan baku farmasi biar bisa kurangi ketergantungan impor.
Wakil Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) Vincent Harijanto mengatakan, saat ini industri farÂmasi berharap proyek bahan baku farmasi yang digarap pemerintah melalui PT Kimia Farma bisa berjalan sesuai target. Jika tidak maka nilai impor bahan baku bisa semakin membengkak. Kita berharap pabriknya berÂjalan sesuai dengan rencana," ujarnya, kemarin.
Selain itu, kata dia, meskipun pemerintah telah membuka dafÂtar negatif investasi (DNI) untuk pembangunan industri bahan baku farmasi, namun masih ada kendala dengan rendahnya bea masuk yang diberikan kepada eksportir India dan China.
"Indonesia mengenakan bea masuk maksimum 10 persen, ke China dan 4,5 persem India," katanya.
Padahal, sejak 1975, pemerintah mengatur industri farmasi yang telah beroperasi selama lima tahun diwajibkan untuk mengembangkan bahan bakuÂnya, tetapi sekarang sudah tidak berjalan. "Harus ada konsistensi dari pemerintah. Kalau sudah diatur begitu," ujarnya.
Dengan dibangunnya industri bahan baku obat di dalam negeri, nilai tambah industri farmasi akan meningkat. Dengan proporsi impor bahan baku sebesar 95 persen, nilai tambah bagi produkÂsi obat non-generik mencapai 30 persen, sementara untuk obat generik hanya 10 persen.
Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) Kendrariadi Suhanda mengatakan, pembangunan pabrik bahan baku farmasi selain menburangi ketergantungan impor juga untuk meningkatkan ekspor. Indonesia berpotensi menjadi basis produksi baÂhan baku produk farmasi untuk wilayah ASEAN.
"Jadi nanti pabrik bahan baku kita tidak hanya untuk menyuplai kebutuhan domestik saja, tapi juga kebutuhan ASEAN," ujarnya.
Ken optimis, hal tersebut akan mendapat respon positif dari negara-negara ASEAN lainnya, karena seperti Indonesia, mereka juga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap impor bahan baku farmasi. "Jadi nanti Indonesia akan memÂbangun satu atau dua pabrik yang memproduksi bahan baku farmasi tertentu untuk seluruh kawasan ASEAN," katanya.
Dengan demikian, kata Ken, ketergantungan negara-negara ASEAN terhadap bahan baku farmasi yang selama ini didomiÂnasi impor dari China dan India bisa dikurangi. Untuk investasi pabrik yang memproduksi satu jenis bahan baku farmasi dibuÂtuhkan investasi sekitar 50 juta dolar AS, sementara kebutuhan akan produk itu sendiri di dalam negeri masih relatif kecil.
Ken menargetkan, pasar farÂmasi akan tumbuh 5â€"6 persen menjadi Rp 78 triliun pada 2017 mengikuti peningkatan permintaan pasar Jaminan Kesehatan Nasional.
Tumbuh
Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka (IKTA) KementeÂrian Perindustrian (Kemenperin) Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, industri farmasi nasional terus mengalami perÂtumbuhan signifikan beberapa tahun belakangan ini. SebelumÂnya, peningkatan berkisar 1,95 persen pada 2014 menjadi 20,5 persen pada 2015, dan terus naik hingga 15,78 persen di 2016.
Pertumbuhan yang cukup sigÂnifikan tersebut juga disertai dengan peningkatan investasi baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun PenanaÂman Modal Asing (PMA) yang mencapai angka Rp 20 triliun.
Menurutnya, meski pertumbuÂhan industri mengalami peningÂkatan yang cukup signifikan, InÂdonesia masih harus mengimpor hampir 80 persen bahan baku untuk industri farmasi. Karena itu, Kemenperin akan terus menÂdorong upaya-upaya substitusi bahan baku impor dengan meliÂbatkan berbagai institusi mulai dari perguruan tinggi, peneliti, dan industri.
Untuk diketahui, pada 12 Desember lalu, Presiden Jokowi melakukan kunjungan kenegaÂraan ke India. Jokowi berharap kunjungan tersebut dapat menjaÂlin kerja sama perdagangan dan investasi yang lebih signifikan.
Menteri Perindustrian AirÂlangga Hartarto yang turut serta dalam kunjungan menyampaikan salah satu hasil pertemuan, salah satunya dalam rangka untuk memperbaiki sektor industri farmasi nasional. Indonesia masih memerlukan bahan baku obat yang selama ini mayoritas dipasok dari China dan India.
Dengan peningkatan kerja sama di sektor ini, diharapkan daÂpat mengurangi ketergantungan bahan baku impor dan memacu pengembangan daya saing indusÂtri farmasi nasional. ***