Berita

Publika

Makar Dan Kesenjangan Sosial Ekonomi

SABTU, 17 DESEMBER 2016 | 05:40 WIB

PERSOALAN itu berasal dari kegagalan dalam mentransformasikan berbahasa asing. Kegagalan yang menutup candela pembukaan khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi dari asing ke dalam negeri. Juga sebaliknya dari dalam negeri ke asing. Kegagalan menghasilkan produk sumberdaya manusia dalam berbicara, menulis, dan berkomukasi secara aktif menggunakan bahasa pergaulan dan perdagangan internasional terbukti telah menambah kerumitan metode untuk menurunkan tingkat kesenjangan sosial dan ekonomi.

Bukan hanya butuh berbahasa daerah di tingkat lokal kedaerahan, berbahasa Indonesia di tingkat nasional, melainkan dibutuhkan kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Arab, Inggris, Mandarin, Jepang, dan Jerman. Sekalipun mesin robot translator sudah banyak tersedia dalam zaman digital, namun kebutuhan berbahasa asing secara aktif tidak kunjung tertemukan terdiffusi dalam produk inovasi.

Fenomena ini menambah kerumitan persoalan kegagalan teknik bersosialisasi saling ajar-mengajarkan diantara mereka yang tumbuh melesat secepat meteor dengan mereka yang tertinggal, terisolasi, dan terbelakang. Sebuah kesenjangan yang semakin serius diantara mereka yang bertulang sumsum lebih kuat dibandingkan mereka yang kekurangan nutrisi, akal, dan kreativitas.


Lupa kepada ilmu ekonomi regional yang mampu menjelaskan titik-titik pertumbuhan ekonomi di daerah berbentuk spiral yang tumbuh melingkar-lingkar. Pusat-pusat pertumbuhan tersebut semula sangat menguntungkan, karena terasa lebih murah. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya pertumbuhan properti di daerah yang semula sebagai Kepala Naga dari pusat perdagangan, perkantoran, dan hunian telah berpindah oleh pertumbuhan pusat-pusat pertumbuhan alternatif di sekitarnya yang baru.

Pembukaan kota dan desa yang baru bergantung dari Dogol. Dogol merupakan urban, atau migran dari daerah lain yang berhasil membuka dan menumbuhkembangkan hutan, desa kecil, atau kota kecil sepi untuk ditumbuhan sebagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang baru. Ratusan tahun terjadi pertumbuhan ekonomi regional seperti itu.

Kemudian kegagalan dalam berkomunikasi antar bahasa dan antar pergaulan etnis telah menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi yang semakin parah. Kritik Delapan Jalur Pemerataan Plus terhadap perluasan Trilogi Pembangunan itu gagal digantikan oleh metode pro-growth, pro-jobs, pro-poor, dan pro-sustainability pembangunan nasional. Juga terkesan masih gagal dientaskan secara cepat menggunakan metode program Revolusi Mental Nawa Cita, Kedaulatan, dan Kemandirian Ekonomi.

Ketidakpuasan itu menimbulkan permintaan Sidang Istimewa untuk kembali pada UUD 1945. Juga permintaan memberhentikan Presiden dan Wapres yang sah terpilih berdasarkan kesepakatan konstitusi. Tafsir makar bermula di sini. Juga permintaan Referendum Kemerdekaan dari Kabupaten Jayawijaya. Semua itu bermula dari kesulitan dalam memahami pertumbuhan ekonomi regional yang berbentuk spiral di atas. Spesialisasi membangun kota-kota baru pesat yang berkembang mengikuti lompatan katak, itu kemudian ditafsirkan sebagai invasi pencaplokan etnis dan bangsa lain. [***]

Sugiyono Madelan
Peneliti INDEF dan Dosen Universitas Mercu Buana.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya