Berita

Bisnis

PDIP Wanti-wanti Pemerintah, Konglomerat Pengemplang Pajak Ingin Masuk Lingkaran Kekuasaan

KAMIS, 15 DESEMBER 2016 | 23:25 WIB | LAPORAN:

Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebutkan delapan orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes dan Globe Asia tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dikomentarin kalangan dewan.

Politisi PDIP Darmadi Durianto miris mendengar kabar tersebut. Pasalnya menurut dia, ke 8 konglomerat yang tak memiliki NPWP tersebut telah mengusik rasa keadilan masyarakat.

"Mereka harus punya hati nurani," ketusnya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (15/12).

Menurut dia, meski orang super kaya di negeri hanya sebanyak 1 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia, namun mereka menguasai setidaknya 50,3 persen kekayaan Indonesia. Jika ditarik dari kategori 10 persen orang terkaya di Indonesia, maka menurut Darmadi mereka telah menguasai 77 persen kekayaan nasional.

"Jadi 90 persen penduduk sisanya hanya menikmati tidak sampai seperempat kekayaan Indonesia. Masa tidak punya NPWP?" sesalnya.

Parahnya lagi, lanjutnya, sekitar dua pertiga kekayaan yang dikuasai orang kaya Indonesia diperoleh karena kedekatan mereka dengan para penguasa. Sehingga banyak konglomerat yang menyelinap masuk ke dalam kekuasaan selama ini menikmati kekayaannya karena merasa bisnisnya terlindungi.

"Banyak dari mereka tidak dapat bersaing secara sehat. Keunggulan bersaingnya adalah menempel ke penguasa," ungkapnya.

Karenanya, Darmadi mengingatkan pemerintahan Jokowi untuk berhati-hati terhadap manuver-manuver para pengemplang pajak yang ingin masuk ke lingkaran kekuasaan.

"Urus NPWP saja gak mau, setahu saya untuk buka rekening saja dibank mereka harus punya NPWP,ngak mungkin mereka tidak punya rekening bank di Indonesia,kita ragukan mereka membayar pajak dengan benar. Apalagi ikut tax amnesty," sungutnya.

Pemerintah pun menurutnya juga harus punya program untuk menurunkan tingkat ketimpangan kekayaan di negeri ini, sehingga penguasaan kekayaan Indonesia oleh segelintir konglomerat bisa diturunkan.

"Pengurangan ketimpangan kesejahteraan masyarakat atau disparitas ekonomi sebagai prioritas pembangunan. Untuk itu Indonesia harus berupaya menciptakan pertumbuhan berkualitas sehingga mampu menurunkan tingkat kemiskinan dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Harus ada keadilan, negara ini bukan mereka yang punya," pungkasnya. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya