Berita

Ma'mun Murod Al-Barbasy/Net

Publika

Teroris Nyata Atau Pengalihan Isu?

SENIN, 12 DESEMBER 2016 | 10:16 WIB

PUBLIK tentu masih ingat waktu terjadi penggerebekan seorang teroris di Temanggung beberapa tahun yang lalu, yang sampai live di televisi-televisi nasional berjam-jam, di mana Densus 88 mengerahkan semua kemampuannya, sampai robot penjinak bom pun dikerahkan untuk menangkap seorang yang diduga teroris.

Pertanyaannya sederhana, apa bener di dalam rumah itu ada orang yang diduga teroris itu? Kalaulah ada, apa untuk menangkap seorang teroris harus pamer kekuatan begitu rupa? Katanya Densus 88 mempunyai kemampuan lebih dalam aksi pelumpuhan teroris. Kalau saya sih menduga itu penggerebekan tipu-tipu saja. Tak ada itu orang yang diduga teroris di dalam bangunan jelek itu.

Dua hari lalu publik yang lagi asik membincang pasca "wuquf" dalam Aksi 212 dan sedang mendiskusikan kapan waktunya utk "lempar jumrah" (harap dipahami secara guyon), tiba-tiba dikejutkan oleh berita tentang ditemukannya "bom ricecooker" seberat 3 kilogram yang konon akan digunakan untuk meledakkan Istana Negara. Saya memang awan sama sekali tentang urusan bom, tapi mendengar berita seperti itu, apalagi sampai tayang live, saya geli juga. Dalam hati saya bicara: "Ini dagelan apalagi? Masa sih orang yang diduga akan meledakan Istana Negara tampilannya tidak cukup meyakinkan dan bomnya ditemukan di Bekasi". Maaf ya, saya kok sangat tidak yakin dengan bom temuan Bekasi tersebut. Saya menduga kuat, itu tipu-tipu saja. Biasa, dugaan saya hanya sekadar untuk pengalihan itu.


Sebagai warga negara, saya punya hak konstitusi untuk  bicara soal hal ini. Secara konstitusi saya dilindungi UUD NRI Tahun 1945 (ini penulisan yang benar) untuk mengkritisi semua kebijakan negara. Apalagi kalau negara mencoba tampil mendominasi dan menghegemoni masyarakat, maka kita mesti harus melawan hegemoni tersebut. Kita harus lawan setiap wacana dominan yang mencoba ditawarkan dan dilakukan oleh negara.

Saya tidak yakin, teroris yang begitu menyeramkan itu benar adanya di Indonesia. Logika saya sangat sederhana. Kalau teroris di Indonesia nyata adanya, maka tak perlu ada Aksi 411 dan Aksi 212. Bukanya dua aksi tersebut merupakan bentuk lunak dari kemarahan umat Islam terhadap Ahok dan juga aparat hukum yang lembek dan lelet dalam memproses kasus penistaan Al-Qur'an yg dilakukan Ahok?

Kalau teroris riil ada di Indoneaia, maaf, maka Ahok, termasuk pejabat-pejabat yang diduga "melindungi" Ahok sudah lama "dileyapkan".

Maaf lho ya, ketika Ahok masih bisa leluasa dan keliaran berkampanye ke mana-mana, tentu ini kontras dengan "kampanye anti teroris" yang digembargemborkan aparat-aparat teroris (bukan aparatnya yang teroris, tapi aparat yang menangani masalah teroris) yang begitu menakutkan, yang kerap menyebut bahwa di Indonesia banyak jihadis-jihadis alumni Afghanistan, alumni Poso, alumni al-Qaidah, anggota ISIS yang konon canggih-canggih, hebat-hebat, yang pernah bikin "Tentara Merah" Uni Sovyet dibuat kalang kabut, yang punya kemampuan merakit bom dari mulai yang low sampai high explosive.

Kalau benar alumni-alumni tetsebut benar adanya, percayalah Ahok tak akan mempunyai keberanian untuk melakukan kampanye ke mana-mana. Pasti alumni-alumni itu akan menjadikan Ahok sebagai target untuk dilenyapkan. Kemana pun Ahok kampanye pasti akan diintai.

Maaf, ini hanya perspektif warga negara biasa dan sekali lagi, sebagai warga negara saya mempunyai hak konstitusional untuk bicara dan membuat status seperti ini. [***]

Ma'mun Murod Al-Barbasy
Penulis adalah aktivis muda Muhammadiyah

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya