Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Cara Orang Tua Deteksi Dini Gejala Autisme Anak

MINGGU, 11 DESEMBER 2016 | 20:35 WIB | LAPORAN:

Orang tua harus deteksi dini gejala autisme atau anak berkebutuhan khusus (ABK). Meski tidak dapat disembuhkan seperti orang normal, namun penanganan dini terhadap autisme harus dilakukan.

Begitu kata Konsultan Saraf Anak dari Asosiasi Disleksia Indonesia Purboyo Solek dalam seminar dan launching Rumah I'm Star Di Titan Center, Bintaro, Tangerang, Minggu (11/12).

"Orang tua harus berhati-hati dan peka terhadap perkembangan anak, sehingga waktu tidak terbuang percuma," ujar Purboyo.


Purboyo menjelaskan bahwa penyebab autisme adalah gangguan genetik, bukan penyakit mental sebagaimana yang sering disebutkan oleh masyarakat. Untuk itu, ia mengimbau agar para orang tua mempelajari lebih dalam tentang autisme dan gejala ABK lain yang diderita anak mereka sebelum memutuskan untuk membawanya ke terapis.

Masih terkait pola penanganan autisme dan ABK lainnya, Purboyo mengingatkan bahwa orang tua harus terjun langsung mengikuti seluruh tahap pembinaan dari awal sampai akhir. Sehingga, orang tua tidak perlu mengganti pola pembinaan dan terapi terhadap anak ABK setiap waktu. Karena umumnya orang tua cenderung menyerahkan fungsi pengobatan pada ahli saja. Padahal proses penyembuhan lebih banyak dihabiskan di lingkungan keluarga.

"Yang perlu diterapi sebenarnya orang tua karena harus tahu banyak tentang autisme. Kalau tidak bagaimana memberi dukungan ke anak-anak? Harus ada pendidikan dasar," katanya.

Terkait deteksi dini autisme, masih kata Purboyo, para orang tua harus memperhatikan tiga aspek ini. Di antaranya pola komunikasi, pola interaksi dan pola perilaku anak.

Beberapa hal mendasar yang kerap dijumpai terhadap anak dengan gejala autisme adalah tidak memulai jalinan interaksi dengan lingkungan sekitarnya atau mempertahankan jalinan interaksi yang sudah ada.  Sementara untuk pola komunikasi yang digunakan lebih dominan verbal dari pada non verbal. Selain itu, kemampuan komunikasi anak yang terlambat bila dibandingkan dengan anak seusianya juga harus menjadi perhatian orang tua.

"Sedangkan untuk perilaku, umumnya lama fokus ke sebuah benda bukan kontak mata dengan orang lain. Ciri lainnya yang harus diperhatikan saat anak terlalu sering melompat di tempat yang sama, tepuk tangan terus menerus dan berputar diporos yang sama tanpa jatuh," pungkasnya. [ian]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Sita Aset Rp22 Miliar Milik Anwar Sadad, Mulai Rumah hingga SPBE

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:42

UPDATE

Pencalonan Kaesang di Solo Raya Sinyal Perang Terbuka PSI vs PDIP

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Araghchi Ancam Balas Serangan Ukraina ke Kapal Dagang Iran

Senin, 27 Juli 2026 | 10:23

Istana Tegaskan Mundurnya Perry Warjiyo Murni Keputusan Pribadi

Senin, 27 Juli 2026 | 10:13

Kejaksaan Harus Jawab Klaim Kriminalisasi Febrie dengan Bukti

Senin, 27 Juli 2026 | 10:04

KPK Dalami Aliran Dana yang Diduga Disiapkan Bupati Kuansing untuk Raja Juli

Senin, 27 Juli 2026 | 09:57

Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Perlu SOP yang Ketat

Senin, 27 Juli 2026 | 09:51

IHSG Merah, Rupiah Ambruk ke Rp17.976 per Dolar AS Usai Gubernur BI Mundur

Senin, 27 Juli 2026 | 09:47

Kasatnarkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim

Senin, 27 Juli 2026 | 09:37

Pengamat: Sulit bagi Kaesang dan PSI Kuasai Solo Raya

Senin, 27 Juli 2026 | 09:34

Perjalanan Karier dan Rekam Jejak Perry Warjiyo di Kepemimpinan Bank Indonesia

Senin, 27 Juli 2026 | 09:25

Selengkapnya