Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Menghayati Wejangan Gus Dur

MINGGU, 11 DESEMBER 2016 | 11:55 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

PADA September 2005 surat kabar Denmark Jyllands-Posten mempublikasikan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad sehingga menimbulkan gelombang aksi protes dengan kekerasan oleh umat Islam. Puluhan orang tewas dalam beberapa pekan aksi protes yang mencakup serangan kekerasan terhadap misi diplomatik Denmark di Suriah, Iran, Afghanistan dan Libanon.

Setidaknya enam orang tewas dalam pemboman bunuh diri pada Juni 2008 di kedutaan Denmark di ibukota Pakistan, Islamabad. Denmark sendiri menggambarkan reaksi umat Islam sebagai krisis internasional terburuk di negara itu sejak Perang Dunia II.  Peristiwa tragis tersebut menimbulkan kegalauan pada sanubari diri saya pribadi sebab kebetulan ketika di Jerman tahun 70-an abad XX, saya sempat mencari nafkah sebagai kartunis pada beberapa surat kabar Jerman.

Demi menenteramkan kegalauan sanubari, saya bertanya kepada mahaguru spiritual saya, Gus Dur mengenai kasus Jyllands-Posten mempublikasikan kartun  menggambarkan Nabi Muhammad sehingga memicu gelombang aksi protes kekerasan di berbagai negara. Gus Dur memberi wejangan kepada saya agar berpegang teguh pada mazhab Agamamu Agamamu, Agamaku Agamaku. Gus Dur mewejangi saya agar selalu berupaya mengerti, menghargai dan menghormati umat yang kebetulan beragama lain dari saya. Jangan sampai saya sebagai seorang kartunis membuat  karya kartun menggambarkan Nabi Muhammad sebagai suatu bentuk penistaan yang pasti akan melukai perasaan umat Islam.


Sebagai seorang kartunis saya harus paham dan mengerti tentang apa saja yang potensial menyinggung perasaan umat beragama. Saya teringat ketika masih bekerja sebagai kartunis di Jerman yang dikenal sebagai negara dengan kebebasan pers, pernah sebuah karya kartun saya menampilkan malaikat sedang bergurau dengan iblis ternyata disensor oleh redaksi surat kabar di mana saya bekerja. Protes saya ditolak redaksi koran Jerman dengan penegasan bahwa kartun saya potensial menyinggung perasaan umat Nasrani setempat. Maka saya berikhtiar menghayati inti makna wejangan Gus Dur tentang Agamamu Agamamu, Agamaku Agamaku sebagai bekal perjuangan hidup saya untuk senantiasa berupaya mengerti, menghormati dan menghargai agama orang lain.

Dalam bersikap, berperilaku dan berkarya, memang hukumnya wajib bagi saya untuk senantiasa berhati-hati, seksama, cermat dan waspada agar jangan sampai menyinggung apalagi melukai perasaan orang lain yang kebetulan memeluk agama bukan agama yang saya peluk. Sejarah peradaban sejak manusia mulai beragama telah membuktikan bahwa ketersinggungan apalagi keterlukaan perasaan umat beragama memang rawan memicu kekerasan bahkan pertumpahan darah.

Maka saya pribadi menghargai dan menghormati keteguhan tekad umat Islam di Indonesia dalam konsekuen dan konsisten menghindari kekerasan pada rangkaian unjuk rasa terhadap kasus dugaan penistaan agama di belahan akhir tahun 2016. Keteguhan tekad menghindari kekerasan yang telah secara nyata diwujudkan oleh umat Islam di Indonesia layak menjadi suri teladan bagi segenap umat beragama di seluruh dunia dalam menghadapi masalah yang potensial ditafsirkan sebagai penistaan agama. [***]

*Penulis mendambakan kerukunan antar umat beragama di planet bumi


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya