Berita

Foto/Net

On The Spot

Sambil Ngopi, Pengojek Online Suarakan Turunnya Pendapatan

Di Tengah Persaingan Tarif Murah & Banyaknya Pengemudi
SENIN, 05 DESEMBER 2016 | 10:31 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sejumlah pengemudi ojek online mengeluhkan pendapatan yang menurun. Persaingan tarif murah antar perusahaan ojek online dan jumlah pengemudi yang semakin banyak, menjadi faktor menurunnya pendapatan mereka.

Sebuah kedai kopi rumahan di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, jadi tempat Lubis "nongkrong" sehari-hari. Selain bersosialisasi dengan sejumlah rekannya, di kedai itu juga dia menunggu order dari penumpang.

Lulusan sebuah universitas di Jakarta Pusat ini, merupakan salah satu pengemudi ojek on­line, yang bisa disebut paling awal hadir di Indonesia, Gojek. Belum genap satu tahun dia bergabung sebagai pengemudi ojek online.


Sekitar jam 10 pagi, dia meme­san kopi di kedai itu. Segelas kopi memang jadi salah satu temannya di kedai itu. Bukan hanya kopi, untuk mengisi wak­tunya menunggu order dari penumpang, dia bermain catur bersama seorang rekannya.

"Wah, kadang bisa lebih dari segelas kalau lagi nunggu. Main caturnya juga bisa lebih dari satu ronde," katanya.

Sepeda motor pabrikan asal Jepang miliknya diparkir persis di depan kedai tersebut. Kunci motornya dibiarkan tetap ter­pasang di lubang kunci. Kata dia, biar bisa cepat dan tidak mencari-cari lagi kalau tiba-tiba ada order.

Satu jam, dua jam, hingga tiga jam berlalu, dia belum juga mendapat order mengantar penumpang. Sementara kopinya sudah hampir habis. Permainan catur pun sudah lebih dari satu ronde. Sambil terus menunggu, dia memilih mengakhiri per­mainan catur dan melanjutkan kegiatan dengan berbincang ringan bersama rekan-rekannya.

"Kalau lagi sepi ya begini, bisa lama nunggunya. Wilayah sini juga sepi sih, paling kalau bubaran anak sekolah saja, seki­tar jam dua siang," katanya.

Tempat mangkalnya memang bukan di jalan utama. Keramaian hanya ada ketika bubaran seko­lah. Tempatnya mangkal, dekat SMAN 113 dan SMPN 272 Jakarta Timur.

Menjadi pengemudi ojek on­line memang bukan pekerjaan utama yang dicita-citakannya. Menjadi pengojek online dilaku­kannya sambil menunggu lama­ran kerjanya diterima. Meski be­gitu, dia mengaku, penghasilan sebagai pengemudi ojek online bisa sekadar menutupi uang jajannya.

"Jadi, tidak perlu minta lagi sama orangtua, punya penghasi­lan sendiri," ucapnya.

Belakangan ini, sejumlah pengemudi ojek online menyuarakan penurunan pendapatan. Hal tersebut juga turut dirasakan Lubis. "Memang ada penurunan, karena ada pengurangan pendapatan per kilometer dan pengemudi sudah banyak banget. Persaingan makin sulit," ucapnya.

Hal senada disampaikan pengemudi Grabbike, Jim. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta itu, dalam sehari hanya bisa mendapatkan empat penumpang.

"Sekarang susah cari penump­ang. Saya dari pagi sampai sore, baru dapat empat orang. Sudah terlalu banyak driver," ujarnya saat ditemui di dekat Terminal Pinang Ranti pukul 15.30 WIB, Jumat (3/12).

Jim mengaku tak masalah dengan tarif yang diberlaku­kan perusahaannya. Dia hanya berharap, perusahaan mengh­entikan penerimaan pengemudi baru. "Biasanya, sehari bisa 20 penumpang. Tapi, lama-lama semakin susah. Sudah mutar-mutar tak dapat penumpang juga. Akhirnya, teman-teman nongkrong saja di satu tempat daripada mutar-mutar terus ngabisin bensin," tuturnya.

Ditemui terpisah, pengmudi Gojek, K memiliki masalah lain. Dia mengeluhkan sulitnya mendapatkan bonus. Apalagi, kalau penumpang melakukan pembatalan pesanan.

"Di bawah lima kilometer, kita biasanya dapat satu poin. Kalau di atas itu bisa dapat dua poin. Tetapi kalau tak ngambil pen­umpang, poinnya bisa berkurang banyak. Poin kalau sudah dapat 10 baru bisa dapat bonus Rp 20 ribu," jelasnya.

Sementara itu, Purba, penge­mudi Gojek mengaku sudah berhenti menerima order pen­umpang. Penyebabnya, sama seperti rekan-rekannya, penu­runan pendapatan di tengah kerasnya persaingan tarif antar perusahaan ojek online.

"Sekarang tarifnya murah, kasihan pengemudinya. Untuk dapat bonus juga sudah susah, makanya saya berhenti dan konsentrasi kuliah sambil cari kerjaan lain," curhatnya.

Bagi Purba, iming-iming pendapatan tinggi bagi pengojek online hanya tinggal harapan. Tarif yang amat murah, penge­mudi yang terlalu banyak dan sulitnya mendapat bonus, ber­pengaruh terhadap penurunan pendapatan pengemudi ojek online.

"Saya memutuskan untuk ber­henti saja," katanya.
 
Latar Belakang
Persaingan Perusahaan Ojek Online, Dari Tarif Paling Murah Hingga Gratis
 
Persaingan antar perusa­haan ojek online dalam merebut hati konsumen begitu ketat. Berbagai cara ditempuh, dari tarif murah hingga gratis.

Soal tarif gratis ini misalnya, tampak dalam papan reklame GrabBike yang dipasang di ber­bagai lokasi di Jakarta. Reklame itu intinya, menjelaskan kode promo GrabBike gratis sampai puas dari tanggal 2 hingga 13 November 2016 bagi pengguna baru selama 10 kali perjalan­an, untuk tarif maksimum Rp 15.000. Setelah itu, ada iklan lain; GrabBike diskon semua pelanggan 70 persen, dengan kode promo Grabdiskon sampai 10 kali.

Menurut Direktur Pelaksana Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata, diskon besar yang kerap mereka berikan adalah hal wajar jika Grab yang bermain di indus­tri teknologi berinvestasi besar. "Kita care banget dengan profit­ability. Semua keputusan dibuat untuk menghasilkan uang," ucap Ridzki usai perkenalan fitur GrabPay Credit di Jakarta.

Sudah beberapa pekan terakhir, Grab gencar mempromosikan diskon yang cukup besar kepada pelanggannya. Salah satu yang cukup besar dan berjalan lama adalah diskon layanan GrabBike sebesar 70 persen. Dibanding layanan sejenis milik kompetitor lain, potongan harga Grab meru­pakan yang terbesar saat ini.

"Kita selektif kasih diskon ya, sesuai dengan target market, jangka waktu, dan penggunaan tertentu," ucap Ridzki.

Sementara itu, menurut peng­guna ojek online, Agiel, Uber motor paling murah. "Jika saya pulang kantor dari Stasiun Pasar Minggu menuju ke Rawamangun, Jakarta Timur, dengan Uber mo­tor saya hanya membayar Rp 23 ribu bahkan kadang Rp 21 ribu," kata karyawan swasta ini.

Menurutnya, jika diband­ingkan saat jam pulang kerja, yakni jam 5 sore, GrabBike dan Gojek memasang tarif tambahan. Sedangkan di Uber, katanya, tidak ada.

"Dari Stasiun Pasar Minggu ke Rawamangun, Gojek itu bisa Rp 31 ribu. Sedangkan GrabBike Rp 29 ribu," tambah wanita berjilbab ini.

Tarif dasar Uber Motor seperti yang tertera di situs newsroom. uber.com, sebesar Rp 1.000 per kilometer. Tarif per menit: Rp 100 dan tarif minimum Rp 1.000.

Sedangkan GoJek member­lakukan tarif berdasar jarak seperti berikut: 1-10 kilometer Rp 12.000. 10-15 kilometer, Rp 15.000. Di atas 15 kilometer dikenai tambahan biaya Rp 2.000 per km (maksimal 25 km), dihitung dari km pertama. Selain itu, GoJek juga mengenakan biaya tambahan Rp 5.000 saat jam sibuk (rush hour).

Sedangkan GrabBike mem­berlakukan tarif berdasarkan jarak dan tarif minimum. Tarif per kilometer GrabBike adalah Rp 1.500. Namun, GrabBike memberlakukan tarif minimum sebesar Rp 10 ribu. Dengan demikian, jika biaya yang mun­cul di bawah Rp 10 ribu, maka pengguna wajib membayar tarif minimum sebesar Rp 10 ribu.

GrabBike juga mengenakan skema biaya tambahan pada jam-jam sibuk, yaitu pada pukul 06:00-09:00 dan 16.00-19.00, (Senin sampai Jumat) ditambah Rp 5 ribu.

Dari situs resmi layanan ini, GrabBike pada bulan lalu sempat memberikan promo 10X per­jalanan gratis untuk maksimum tarif Rp 15 ribu dengan menggu­nakan kode promo. ***

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Tak Lagi Menjabat, Anies Keliling Kampus Isi Ceramah

Senin, 09 Maret 2026 | 10:15

Pemerintah Diminta Turun Atasi Ancaman Kental Manis pada Anak di Aceh Tamiang

Senin, 09 Maret 2026 | 10:10

Tips Praktis Investasi Emas untuk Pemula, Cara Aman Lindungi Nilai Aset

Senin, 09 Maret 2026 | 10:10

Prabowo Minta Laporan Progres Proyek 10 Universitas STEM dan Kedokteran di Hambalang

Senin, 09 Maret 2026 | 10:03

Ramai Isu Pembajakan, Pandji Bakal Rilis Buku dari Spesial Show Mens Rea

Senin, 09 Maret 2026 | 10:01

Malam Takbiran dan Nyepi Barengan di Bali? Begini Cara Umat Menjaga Harmoni

Senin, 09 Maret 2026 | 09:54

Perkara Selebgram Nabilah O'Brien dengan Zendhy Kusuma Berujung Damai

Senin, 09 Maret 2026 | 09:52

JK Sarankan Prabowo Prioritaskan Program yang Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 09 Maret 2026 | 09:42

Serangan ke KPK soal Kasus Gus Yaqut Dinilai Menyesatkan

Senin, 09 Maret 2026 | 09:36

Cadangan BBM Hanya 20 Hari, Ekonom Ingatkan Risiko Inflasi dan Beban Fiskal

Senin, 09 Maret 2026 | 09:33

Selengkapnya