Berita

Husendro

Publika

Belajar "Makar" Dan Integritas Dari Socrates

SABTU, 03 DESEMBER 2016 | 09:50 WIB

SOCRATES sendiri adalah filsuf Yunani pertama yang lahir sebagai warga Athena pada sekitar 470 SM dan meninggal sekitar 399 SM. Meskipun sebagai seorang filsuf dan guru, Socrates tidaklah begitu mahir menuangkan pemikiran-pemikirannya ke dalam bentuk tulisan, bahkan dapat disebut ia hampir tidak pernah berfilsafat dengan cara menulis.

Ia hanya hadir sebagai seorang pendialog yang kritikal yang hanya mendokumentasikan material-material dalam kaitannya dengan apa yang diwacanakannya dalam lingkup filsafat [apa hukum dan keadilan itu? bagaimana hukum dan keadilan harus didefinisikan dan dipisahkan pada masing-masingnya? apakah keadilan yang menjadi aspek fundamental bagi hukum? dan seterusnya] yang ada dipemikirannya, untuk pada gilirannya akan diperdebatkan secara langsung dengan siapapun yang ia temui sepanjang lorong dan alun-alun kota Athena.

Ketika pertanyaannya dijawab oleh seseorang, maka Socrates akan terus mengejar orang yang bersangkutan dengan pertanyaaan 'to ti' (apa itu? kok bisa begitu? apa maksudnya? dan seterusnya), hingga sebuah jawaban pun dapat dirumuskan secara tegas dan lugas, tanpa sama sekali menyisakan kemungkinan bagi ruang penafsiran ganda atau beragam.


Cara bertanya Socrates dalam mencari jawaban ini menjadi terkenal dan sering disebut "Socratik Method". Efeknya seperti menjatuhkan dua burung dengan satu lemparan batu. Di satu pihak, cara ini memperlihatkan ketidaktahuan orang-orang yang merasa diri tahu, namun nyatanya tidak lebih banyak tahu dari yang diketahui Socrates. Di pihak lain, cara ini juga membangkitkan minat para pengamat terhadap pertanyaan filosofis yang fundamental, yang kemudian menarik mereka untuk ikut berdiskusi tentang persoalan itu. Oleh sebab itu, Socrates juga dikenal sebagai orang pertama yang meletakkan fondasi bermetode dalam tradisi logika. Dengan menitikberatkan pada dialog dan argumen-argumen rasional, ia juga mengembangkan metode-metode dalam penalaran untuk mendemonstrasikan asas-asas logika, yang oleh mereka sering disebut dengan terminologi 'dialektika'.

Dialektika Socrates ini ternyata menyebabkan dirinya sebagai sumber pengaruh yang subversif/makar. Ia mengajari orang untuk mempertanyakan segalanya, ia juga menelanjangi ketidaktahuan para penguasa. Akhirnya, penguasa menangkap Socrates dengan tuduhan telah menyesatkan kaum muda dan tidak percaya kepada dewa-dewa Athena. Ia dibawa ke meja pengadilan dan dihukum mati dengan cara minum racun.

Filsafat Socrates sebenarnya justru banyak membahas masalah-masalah etika. Ia beranggapan bahwa yang paling utama dalam kehidupan bukanlah kekayaan atau kehormatan, melainkan kesehatan jiwa. Prasyarat utama dalam hidup manusia adalah jiwa yang sehat agar tujuan-tujuan hidup lainnya dapat diraih. Tujuan hidup yang paling utama adalah kebahagiaan (eudaimonia), yang berarti kesempurnaan. Jalan atau cara untuk mencapai kebahagiaan adalah arete (kebajikan). Orang yang bajik adalah orang yang mampu hidup bahagia.

Salah satunya adalah keyakinan bahwa bagi orang menjaga integritas pribadinya, tidak pernah ada kemalangan yang nyata dan berlangsung lama. Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Orang sewaktu-waktu bisa kehilangan harta miliknya, dijebloskan ke penjara meski tidak bersalah, mengalami kecelakaan atau terserang penyakit. Namun, semua itu hanyalah serba kebetulan belaka dalam kefanaan eksistensi manusia yang hanya sekelebatan dan pasti segera berakhir ini. Sejauh jiwa tetap tak terusik, kemalangan tidak terlalu berarti. Bencana yang sebenar-benarnya adalah pembusukan jiwa. Itulah sebabnya orang yang menderita akibat ketidakadilan sebetulnya tidak terlalu menderita dibandingkan orang yang melakukan ketidakadilan itu. [***]

Husendro
Penulis adalah kandidat Doktor Ilmu Hukum Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya