Berita

Syahganda Nainggolan/Net

Politik

Long March, Ulama dan Masa Depan Indonesia

SELASA, 29 NOVEMBER 2016 | 06:01 WIB | OLEH: SYAHGANDA NAINGGOLAN

RIBUAN santri telah berangkat long march (jalan panjang) dari Ciamis menuju Jakarta, kemarin, 28 November. Mereka ingin ikut aksi "Bela Islam 3", Penjarakan Ahok, sang penista agama.

Ini adalah aksi revolusioner anak anak muda Sunda yang selalu menghiasi sejarah bangsa kita. Bayangkan jarak tempuh 270 KM yang biasanya bisa ditempuh 6 sampai dengan 8 jam dengan mobil bus, akan di tempuh mereka dengan berjalan kaki selama 3  atau 4 hari.

Di masa lalu, awal kemerdekaan,  mereka melakukan aksi long march Siliwangi. Saat itu perjanjian Renville mengeluarkan Jawa Barat dari Indonesia. Demi kepatuhan pada Soekarno, tentara divisi Siliwangi ini pindah ke Jawa tengah. Sebagiannya bisa naik kereta api, dan kapal laut. Namun, sebagian besar pula berjalan kaki.


Juga, di  masa akhir Orde Lama, anak anak mahasiswa Bandung juga long march ke Universitas Indonesia, untuk bersama sama melakukan tuntutan Tritura kepada rezim Bung Karno. Selain itu ada long march perjuangan mahasiswa di Jawa Barat, seperti long march Bandung-Badega, tahun 1989 menuntut dikembalikannya tanah petani Badega yang dirampok pengusaha. Satu lagi ada long march Bandung  ke Jakarta semasa rezim Megawati. Mungkin banyak juga catatan long march lainnya yang kurang terekam sejarah dari tanah Sunda ini.


Long March dan Militanisme

Long March dalam tradisi perjuangan memang menjadi sumber energi dan spirit yang sangat dahsyat. Para  peserta long march akan bertemu dengan rakyat di sekitarnya dan saling membagi cerita perjuangan mereka. Sebuah penciptaan militansi.

Bagi ummat Islam, long march bukan merupakan barang impor. Meskipun long march Mao Ze Dong dan Partai Komunis China tercatat terpanjang dan terlama dalam sejarah dunia, namun long march kaum sipil sudah ada sejak Rasulullah berpindah dari Mekkah ke Madinah. Dan sebaliknya dari Madinah ke Makkah dalam kisah penaklukan Mekkah melawan Kafir Quraish.

Jarak Mekkah ke Madinah lebih jauh dibanding dengan Ciamis ke Jakarta. Namun, tantangan gurun pasir  dan panas terik matahari jazirah arab, lebih menunjukkan  beratnya beban masa Rasul tersebut dibandingkan long march ummat Islam Ciamis Jakarta.

Spirit long march, tentu fenomenal. Spirit long march di Cina menghasilkan negara RRC yang saat ini kita kenal. Sebuah negara adidaya. Spirit long march Rasulullah, berhasil menciptakan sebuah konsep negara dalam Islam, yang disebut "negara Madinah". Selain itu, berhasil menaklukkan Mekkah dari kalangan kafir Quraisy. Sebuah kiblat bagi miliaran manusia didunia.

Peranan ulama dalam long march Siliwangi tentu sangat besar, karena divisi militer masa itu kebanyakan dari laskar laskar perjuangan Islam. Dan long march Ciamis ke Jakarta saat ini juga merupakan pengaruh ulama yang mendorong semangat mereka berkorban dan berjuang. Tentu bagi ulama, inspirasi long march ini bersumber dari perjuangan Rasulullah.  Ajaran militanisme.

Ulama dan Masa Depan Kita

Keberhasilan ulama dalam membangkitkan semangat ummatnya, tanpa takut, menghadapi penista agama dan cukong cukongnya sekarang ini, merupakan pintu masuk bagi bangsa kita ke depan untuk bangkit. Seorang begawan ekonomi Universitas Indonesia, yang menyelamatkan keberlangsungan eksistensi pasal 33 UUD45 dari gerakan amandemen, Professor Sri Edi Swasono, merasa bahwa dengan tidak bisanya ulama ulama dikendalikan asing dan cukong, memberi asa untuk Indonesia bisa menghadapi ancaman strategis bangsa bangsa asing yang ingin menjajah kita kembali.

Prof Sri Edi menginginkan saya mengutip ucapannya, yang baru tadi malam disampaikannya sebagai berikur: "Saya malu sama Habib Rizieq. Saya dipanel dengan Rizieq dan dua orang senior sesepuh intelektual mantan jenderal TNI diskusi Pancasila dan Komunisme, di Jakarta beberapa bulan lalu. Ternyata Rizieq lebih menguasai Pancasila  daripada kami bertiga. Bahkan Rizieq tanpa teks sama sekali. Untunglah saya, karena moral saya lebih kuat, karena ayah saya dibunuh PKI, saya coba mengimbangi kemampuan Rizieq itu."

Selain merasa malu melihat kaum cendikiawan dan perguruan tinggi hidup di "menara gading", professor Sri Edi, di masa tuanya baru sadar bahwa hanya ulama lah yang bisa melakukan perubahan besar negeri ini, sebagai pioneer.

Tentu Rizieq bukan satu-satunya ulama yang tidak bisa "dibeli" asing dan cukong-cukong. Berbagai ulama yang bahu-membahu menyadarkan ummat untuk melawan Ahok sebagai representasi cukong-cukong rasis tentunya ulama ulama yang masih sesuai dengan makna ulama sesungguhnya. Makna ulama dalam pengertian sesungguhnya adalah ilmuan berbasis agama, sekaligus menjadi penunjuk jalan ummatnya di Jalan Tuhan. Berbeda dengan cendikiawan biasa, ulama tidak menggunakan akal bebas, melainkan menterjemahkan Wahyu Ilahi.

Lalu bagaimana kaitan ulama dan masa depan bangsa?

Pertanyaan ini penting menjawab adanya kecurigaan segera mendominasinya peranan Islam dalam percaturan politik kita ke depan. Berbagai upaya sudah dilakukan kelompok-kelompok kontra Islam. Mereka menebarkan spanduk-spanduk dan baliho besar tokoh tokoh kemerdekaan Indonesia, dari beragam suku dan agama, di seantero Jakarta. Juga spanduk "Semua Kita Bersaudara". Ada juga spanduk yang mempromosikan kebhinnekaan bangsa. Dan lain-lain.

Bahkan, berbagai aksi, diskusi dan parade kebhinnekaan dilakukan. Lebih mengerikan lagi, baru-baru ini, seperti yang dilakukan  Boni Hargens, seorang pembela Ahok sejati, berusaha menista ulama besar NU, KH. Makhruf Amin, dengan mempostingkan di twetter foto ulama tersebut dengan istrinya yang disertai kata-kata melecehkan.

Situasi objektif yang terjadi saat ini memang arahnya adalah perang saudara, mengulangi tahun 1965. Sebuah "clash of civilization" yang rumit. Rumitnya, jika meniru Sudan, maka sebuah negara mungkin bisa pecah secara mudah, membagi dua berdasarkan wilayah, menjadi Sudan dan Sudan Selatan. Sedangkan pertarungan dua kelompok masyarakat di Indonesia saat ini susah untuk dibagi berdasarkan wilayah. Akibatnya, korban akan sangat besar nantinya dan bersifat lebih lama.

Ummat Islam melihat musuh-musuhnya sebagai keberlanjutan Kolonialisme Penjajahan, yang menyingkirkan Islam dan Pribumi, sementara yang anti Islam, menuduh Islam sebagai ajaran personal yang tidak punya hak konstitusional mengatur urusan negara dan bangsa.

Orang-orang yang merasa tersingkirkan dari pembangunan dan kemajuan nasional akibat salah urus negara, melihat ulama dan Islam sebagai tumpuan harapan mereka. Sebaliknya, masyarakat anti Islam akan berlindung pada negara yang semakin liberal dan kapitalis.

Kita tentu perlu mengukur siapa akhirnya lebih kuat dalam menentukan nasib bangsa kita. Jika kaum ulama lebih kuat dan dipercaya rakyat, maka nantinya arah bangsa ini akan dikendalikan para ulama.

Jalan lain kelihatannya sudah buntu. Sebab, semangat pertikaian dan pertentangan sudah lebih besar daripada membangun kesefahaman dan sinergisitas. [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif Sabang-Merauke Circle

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya