Berita

Joko Widodo/net

Bisnis

Jokowi: Uang Kita Yang Di Bawah Kasur Masih Banyak Sekali

SABTU, 26 NOVEMBER 2016 | 02:56 WIB | LAPORAN:

Meskipun program Tax Amnesty periode I dinilai berhasil, Presiden Joko Widodo tetap menginginkan arus uang masuk yang lebih besar.

Hal itu bertujuan lebih meningkatkan lagi perekonomian di Tanah Air di tengah pelambatan ekonomi global yang tengah melanda dalam beberapa tahun terakhir.

"Yang dipentingkan arus uang masuknya masuk ke sistem keuangan dan perbankan kita. Kemudian jangka menengah panjang bisa bangun infrastruktur baik nantinya uang itu dipakai membangun pelabuhan, jalan tol yang tidak hanya di Jawa, tapi di luar Jawa dan sudah dimulai," ujar Jokowi saat sosialisasi Tax Amnesty periode II di Hotel Clarion Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (25/11).


Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga mengapresiasi pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan yang tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional.  Pada triwulan II 2016 ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh sebesar 8,1 persen, berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,18 persen.

"Saya ke sini tak hanya jumpa fans. Saya ke sini ingin agar Tax Amnesty di Sulawesi Selatan semua bergerak, baik usaha kecil, menengah, besar," ucap Presiden.

Jokowi mengingatkan untuk tetap optimis di tengah guncangan ekonomi yang tengah melanda dunia belakangan ini. Pertumbuhan ekonomi nasional yang masih positif diharapkan terus dapat memacu peningkatan ekonomi di masa mendatang.

"Alhamdulillah, pertumbuhan ekonomi kita meski tekanan ekonomi global berat, tetapi kita lihat kuartal pertama kita tumbuh 4,94 persen, kuartal kedua 5,18 persen, ketiga 5,02 persen. Negara lain banyak yang sudah minus," klaimnya.

Lebih lanjut, Kepala Negara juga mengatakan bahwa potensi kekayaan negara masih sangat besar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai penggerak ekonomi. Namun, dana besar itu masih belum dilaporkan dan juga masih tersimpan di luar negeri. Karena itulah program Tax Amnesty diselenggarakan.

Diklaim pemerintah, tahapan pertama Tax Amnesty berhasil meraih pemasukan negara Rp 9,8 triliun, deklarasi mencapai Rp 3.500 triliun dan repatriasi Rp 137 triliun.

"Kita lupa bahwa sebetulnya kekayaan kita, uang kita yang berada di bawah bantal, yang berada di bawah kasur, yang disimpan di luar negeri masih banyak sekali. Data yang ada di kementerian kurang lebih Rp 11ribu triliun," ungkapnya. [ald]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya