Berita

Nasaruddin Umar/Net

Merawat Toleransi (1)

Apa Itu Toleransi?

SELASA, 22 NOVEMBER 2016 | 09:37 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

TOLERANSI (Latin: tolerare) berarti mengendalikan diri, bersabar, memberi kesempatan orang berpendapat lain, dan lapang dada menerima perbedaan. Dalam ka­mus Bahasa Indonesia toleransi diartikan sebagai sikap menghargai, membiarkan, membolehkan pendirian (pendapat, pandangan kepercayaan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Tol­eransi tidak mesti diartikan membenarkan penda­pat yang berbeda tetapi mengakui hak asasi orang lain untuk berbeda pendapat.

Sikap toleransi mengimplisitkan adanya pen­gakuan terhadap pluralitas dan kebhinnekaan antara sesama warga masyarakat tanpa mem­bedakan jenis kelamin, etnik, agama, dan ke­percayaan. Toleransi tidak identik dengan pembenaran nilai-nilai yang dianut orang lain. Perbedaan pandangan tetap ada, tetapi perbedaan itu tidak perlu melahirkan pertentangan, apalagi per­musuhan satu sama lain.

Toleransi antaraumat beragama artinya pengakuan, bukan pembenaran, terhadap agama-agama orang lain. Biarkanlah orang-orang lain menjalankan agamanya masing-masing, semen­tara kita tetap menjalankan agama kita, tanpa saling mengusik eksistensi dan substansi ajaran agama orang lain. Sangat indah redaksi yang digunakan Al­lah Swt dalam Al-Qur’an: Lakum dinukum wa liya­din (Untukmu agamamu dan untukku agamaku). Mungkin tidak ada kitab suci seterbuka Al-Qur’an dalam mengungkap pentingnya sikap toleransi. Puluhan kali Al-Qur’an menyebutkan eksistensi agama-agama lain secara eksplisit seperti Ya­hudi, Nashrani, dan Majusi. Mungkin kenyataan seperti ini tidak akan pernah ditemukan.


Dalam tradisi Islam, toleransi diistilahkan den­gan tasamuh, dari akar kata samuha-yasmuhu berarti murah hati, memaafkan. Tasamuh sering dihubungkan atau mempunyai kemiripan arti den­gan htimal (akomodatif), tasahul (lapang dada, welcome, dan samhah atau samahah (kemura­han dan kelapangan dada). Nuansa kebatinan tasamuh lebih terasa teduh dan damai daripada toleran yang mengimplikasikan adanya unsur ket­erpaksaan atau tekanan dari luar.

Toleransi atau tasamuh lebih terasa dan ter­lihat maknanya di dalam masyarakat plural dan heterogen seperti di Indonesia yang teradiri atas berbagai etnik, agama, adat-istiadat, dan kearifan lokal. Semakin plural dan heterogen suatu bang­sa atau komunitas semakin perlu sikap toleransi. Masyarakat plural-heterogen tanpa sikap toleran atau tasamuh pasti selalu diwarnai oleh ketegan­gan primordial dan konseptual.

Indonesia sebagai negara bangsa yang be­sar, amat plural dan heterogen mutlak memerlu­kan perawatan sikap toleransi. Jika toleransi ter­usik, maka ancaman desintegrasi bangsa akan ada. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika (bercerai be­rai tetapi tetap satu) harus mandarah daging bagi segenap warga bangsa Indonesia jika mereka menghendaki negerinya hebat. Nasionalisme In­donesia sudah teruji keampuhannya di dalam merawat dan melindungi NKRI. Sudah beberapa kali NKRIdiramal oleh para futurolog asing akan hancur berkeping-kping lalu jatuh ke dalam geng­gaman negara-negara adidaya, tetapi sekali lagi, berkat rahmat Allah Swt, ramalan-ramalan itu masih terus meleset.

Pluralitas dan heterogenitas masyarakat ses­ungguhnya adalah ketetapan Allah Swt (sunnatul­lah). Dalam salah satu ayat Al-Qur’an ditegaskan: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perem­puan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal men­genal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (Q.S. A-Hujurat/49:13). Dalam ayat lain ditegaskan lagi: Dan jikalau Tu­hanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apak­ah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman se­muanya? (Q.S. Yunus/10:99). Kedua ayat terse­but mengisyaratkan pluralitas dan heterogenitas masyarakat pasti akan selalu ada. Penggunaan kata lau (seandainya) dalam ayat terakhir mengi­syaratkan pemustahilan, artinya tidak akan per­nah mungkin sebuah masyarakat menjadi utuh.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Main di Kandang PSIM, Persija Menang Telak 4-0

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:49

Cukai MBDK Mulai Dipungut Semester II/2027, Target Rp1,7 Triliun

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 19:30

DPR Ingatkan Bijak di Ruang Digital dan Cegah Perundungan Siber

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:51

Ekspor Emas Anjlok, Bea Cukai Ungkap Perusahaan Tahan Pengiriman

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 18:38

Usai Dilantik, Kapolda Metro Jaya Serap Aspirasi Insan Pers

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:49

Pertamina Perkuat Ekosistem MyPertamina di MotoGP Mandalika

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:30

Tegas dan Loyal, Demokrat: Tidak Ada Nama Selain Prabowo untuk Kontestasi 2029

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:36

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

YLBHI Minta Polresta Solo Hentikan Dugaan Kriminalisasi Kasus Perdata jadi Pidana

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:36

Pertamina Perkuat Pengelolaan Sampah Mandalika Lewat Dukungan untuk Bank Sampah Putri Nyale

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15:09

Selengkapnya