Berita

Foto/Net

Bisnis

Eropa & AS Coba Singkirkan Produk Sawit Indonesia

SENIN, 21 NOVEMBER 2016 | 09:04 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Potensi yang dihasilkan dari kelapa sawit Indonesia memicu kekhawatiran perkebunan nabati di kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS). Karena itu, berba­gai cara dilakukan untuk meng­hambat produk sawit Indonesia masuk ke pasarnya.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gus Dalhari Harahap mengata­kan, negara-negara di Eropa dan Amerika coba menyingkirkan kelapa sawit Indonesia. Salah satunya dengan mengintervensi aturan Roundtable for Sustain­able Palm Oil (RSPO) dan High Conservation Value (HCV).

Padahal, kata dia, Indonesia telah menerapkan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang wajib ke seluruh perusa­haan kelapa sawit di Tanah Air. "Kelapa sawit di Indonesia, areal lahannya kecil namun produktivitasnya tinggi, sedan­gkan minyak nabati lainnya itu di Eropa dan Amerika, lahannya luas tapi produktivitas rendah, bahkan sering rugi," ujar Gus kepada Rakyat Merdeka, ke­marin.


Negara-negara di Eropa dan AS, kata dia, ingin harga produk­si minyak kedelai maupun bunga mataharinya tetap mahal di level perdagangan global. Atau terjadi keseimbangan harga antara min­yak kelapa sawit dengan kedelai dan bunga matahari.

"Jadi ini dilakukan supaya harga produksi perkebunan mer­eka tidak jatuh sekali. Apalagi sekarang kelapa sawit amat di­minati di perdagangan global," katanya.

Karena itulah, mereka melaku­kan kampanye negatif terhadap produk sawit Indonesia.

Ada saja isu yang digulirkan seperti soal lingkungan hidup, kebakaran hutan, efek rumah kaca, dan tidak berkelanjutan.

"Padahal selama ini petani kelapa sawit Indonesia tidak mengganggu alam. Perkebunan kelapa sawit amat memperhati­kan keberlanjutan lingkungan," tukasnya.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun menilai, kepentingan asing tidak bisa dianggap remeh. Dia berharap segera dibuat regu­lasi untuk kepentingan nasional, supaya semuanya mendapatkan kepastian hukum, baik pelaku usaha besar maupun petani yang selama ini terkriminalisasi adanya gerakan-gerakan LSM yang selalu mendiskreditkan sawit sebagai perusak hutan.

Saat ini, kata dia, persoalan industri sawit dengan adanya pihak asing sudah makin kom­plek. Ditambah produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) nasional pada tahun lalu sudah mencapai 30 juta ton.

"Di industri ini juga banyak melibatkan banyak petani dan pengusaha. Industri ini juga mendatangkan devisa yang be­sar bagi negara," ucap dia.

Menurut dia, dengan keberadaan Undang-Undang Perke­lapasawitan diharapkan semua kepentingan dapat diperhatikan. "Tidak hanya kepentingan pen­gusaha, tapi juga petani, industri hilirnya, pemasarannya, tata ni­aganya, pengelolaan kebunnya," jelas Derom. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya