Berita

Politik

Eksodus Petani Tiongkok Ke Indonesia Sudah Dipersiapkan Matang

JUMAT, 11 NOVEMBER 2016 | 21:41 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Penangkapan empat petani berkewarganegaraan Tiongkok di lahan perkebunan Kampung Gunung Siem, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tidak boleh dianggap sepele. Pasalnya, Tiongkok benar-benar ingin menguasai lahan pertanian Indonesia.

"(Eksodus petani Tiongkok) sebenarnya telah dipersiapkan matang oleh para investor asal Tiongkok, terutama yang ingin menguasai lahan pertanian di Indonesia," kata analis ekonomi dan politik Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat (11/11).

Dalam catatan Andy, investor Tiongkok mulai melirik lahan pertanian di Indonesia melalui rencana penguasaan 50 ribu hektare persawahan di Kabupaten Subang tahun 2013.


Penguasaan lahan dengan dalih pengembangan pertanian terpadu di Subang dilakukan Malaysia Chronicle, perusahaan perkebunan China Liaoning Wufeng Agricultural, bekerja sama dengan Malaysian Amarak Group dan perusahaan lokal Indonesia, Tri Indah Mandiri.

Dari berbagai sumber yang dihimpun Andy, China Liaoning Wufeng Agricultural adalah perusahaan pertanian terbesar di Tiongkok. Didirikan tahun 2000, kini China Liaoning Wufeng Agricultural memiliki 24 lahan pertanian dengan 2000 buruh tani yang berkantor di Propinsi Liaoning di Timur Laut Tiongkok.

"Perusahaan pertanian Tiongkok ini telah melakukan ekspansi di Thailand, Vietnam dan Kamboja. Perusahaan mensuplai beras ke Tiongkok daratan," katanya.

Andy menduga ada hubungan petani Tiongkok di Bogor dengan rencana impor cangkul dari negara tirai bambu yang dilakukan salah satu BUMN, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

"Bisa saja cangkul tersebut diperuntukkan bagi buruh tani Tiongkok yang akan berladang di nusantara. Cangkulnya dulu, petaninya datang menyusul," katanya.

Atas terungkapnya kasus tersebut, Andy meminta Presiden Jokowi segera mengantisipasi pendudukan lahan pertanian di Indonesia. Menurut dia, setelah kasusnya ditemukan di Bogor dan Subang, tidak tertutup kemungkinan ratusan ribu hektar lahan pertanian di Indonesia akan diduduki oleh Tiongkok.

"Jangan gampang memberikan izin investasi dan pembelian lahan, terutama lahan pertanian bagi para investor khususnya dari Tiongkok. Kalau tidak bisa jadi boomerang, mengancam eksistensi para buruh tani dan petani di Indonesia," tukas Andy.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya