Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Indonesia Rugi Rp 1800 Triliun Per Tahun di Sektor Kehutanan

KAMIS, 10 NOVEMBER 2016 | 05:18 WIB | LAPORAN:

RMOL. Pemerintah Indonesia diminta untuk serius melakukan gerakan pengelolaan kerusakan hutan agar bermanfaat bagi perekonomian Indonesia.

Direktur Eksekutif Lembaga Agro Energi Indonesia (AEI) Jainal Pangaribuan mengungkapkan, paling tidak Indonesia kehilangan potensi keuangan negara hingga Rp 1800 triliun per tahunnya apabila lahan hutan yang sudah rusak dibiarkan tanpa pengelolaan.

Jainal menjelaskan, saat ini, Indonesia memiliki 60 juta hektar hutan yang sudah rusak parah. Seharusnya, lahan itu bisa dilakukan reboisasi atau penghijauan kembali serta akan menjadi sumber penghasilan pendapatan negara yang tidak kecil.


"Bagaimana caranya? Kami sudah menghitung, untuk 10 juta hektar saja, jika ditanami dengan pohon aren, maka dalam tujuh tahun kedepan, dari lahan hutan rusak itu bisa memperoleh Rp 1800 triliun per tahunnya," papar Jainal Pangaribuan, Kamis (10/11).

Menurut dia, program pemerintah untuk melakukan re-forestasi atau penghijauan kembali, sangat kecil kemampuannya. Sebab, proses de-forestasi alias penggundulan dan pengrusakan hutan ternyata terus terjadi.

"Kemampuan pemerintah hanya mampu menghijaukan kembali atau reforestasi sebanyak dua juta lahan, padahal proses deforestasi atau kerusakan hutan tetap terjadi sebesar dua juta hektar per tahunnya. Artinya stagnan, hutan rusak seluas 60 juta hektar itu tetap menjadi beban dan akan kian mengganggu ekosistem dan iklim," papar dia.

Karena itu, Jainal menantang pemerintah agar mengolah lahan 60 juta hektar hutan rusak agar kembali produltif.

"Caranya, dengan mengupayakan lahan rusak itu ditanami pohon aren. Pohon aren adalah tanaman hutan, dan itu memiliki potensi pemulihan lingkungan yang sangat tinggi," ujarnya.

Selain akan bisa mereboisasi hutan rusak, tanaman aren juga bisa menjadi sumber penghasilan yang efektif bagi masyarakat dan pemerintah.

"Mulai dari baangnya, ijuknya, lidinya, buahnya sampai ke akarnya, semua berguna dan semua berpotensi secara ekonomis," ujar dia.

Bahkan, lanjut dia, untuk bahan bakar bio etanol yang ramah lingkungan, produk aren sangat banyak digunakan.

"Anda bisa bayangkan, hanya untuk kebutuhan bioetanol saja, Indonesia impor dari Amerika bertriliun-triliun. Padahal, pohon aren bisa menghasilkan itu, dalam sepuluh liter premium, dibutuhkan satu litet bioetanol, saat ini. Dan itu padahal bisa diproduksi dari pohon aren," ungkap dia.

Jainal mengatakan, jika dalam tujuh tahun, semua lahan hutan rusak sdah ditanami pohon aren, maka musim panen usia tujuh tahun itu diprediksi bisa memenuhi penghasilan negara ribuan triliun rupiah per tahunnya.

"Bisa anda bayangkan, untuk memenuhi APBN saat ini saja Indonesia harus pontang panting melakukan tax amnesty padahal APBN kita hanya 2000-an triliun rupiah saja. Anda bisa bayangkan jika pohon aren ditanami di lahan rusak tadi, bisa menghasilkan hingga ribuan triliun per tahunnya. Ini adalah tanggung jawab negara, mengapa tak dilakukan?" pungkasnya. [sam]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya