Berita

Impor Cangkul dari China/Net

Bisnis

Apa Kata Dunia Cangkul Saja Kok Masih Diimpor

Banyak Dikecam, Menperin Janji Nggak Impor Lagi
SELASA, 01 NOVEMBER 2016 | 09:19 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Protes terhadap impor cangkul terus mengalir. Kebijakan tersebut dinilai bertentangan dengan semangat membangun kemandirian ekonomi dan semangat swasembada. Merespons kritik tersebut, pemerintah berjanji tidak akan impor lagi.
Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indo­nesia (HKTI) Heri Gunawan mengecam keras kebijakan impor cangkul dari China.

"Apa kata dunia, urusan cangkul saja pemerintah pilih impor. Kedaulatan pangan itu bukan semata-mata soal kon­sumsi, tapi juga soal kedaulatan industri penopangnya," kecam Heri di Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan , bengkel-bengkel produksi yang mampu memproduksi cangkul di dalam negeri cukup banyak. Keputusan melakukan impor sangat tidak bisa diterima.

Dia mengungkapkan , bengkel-bengkel produksi yang mampu memproduksi cangkul di dalam negeri cukup banyak. Keputusan melakukan impor sangat tidak bisa diterima.

Dia meminta, impor dihen­tikan supaya industri di dalam negeri bisa berkembang dan membuka lapangan pekerjaan.

"Coba bayangkan, jika ke­butuhan cangkul sebanyak 40 sampai 50 kontainer per bulan itu diserahkan kepada industri-industri lokal, maka industri lokal bisa bangkit. Bengkel-bengkel kita hidup karena banyak order. Dan, ujungnya menyerap banyak tenaga kerja," ungkapnya.

Dia mengakui, dari data yang dimilikinya, alat produksi lokal baru memenuhi 30 persen ke­butuhan. Kekurangan ini seharusnya dijadikan peluang untuk menggerakkan industri-industri alat pertanian lokal. Apalagi ada aturan yang me­nyebutkan alat produksi harus memenuhi tingkat kandungan dalam negeri mencapai 40 sam­pai 80 persen.

Ketua Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih mengaku terkejut dengan kebijakan impor cangkul. "Jika benar, ini men­jadi bukti bahwa perhatian pemerintah terhadap dunia perta­nian sebenarnya sangat kurang," kecamnya.

Dia meminta pemerintah segera menghentikan impor cangkul. Karena, banyak beng­kel di dalam negeri yang mampu bikin alat produksi tersebut. Antara lain, disebutkannya, banyak tersebar di Aceh.

Seperti diketahui, pemerintah melakukan impor cangkul dari China melalui PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Izin impor keluar pada Juni 2016 dan berakhir Desember 2016 dengan total 86 ribu unit cang­kul. Impor ini mendapat protes dari banyak kalangan. Impor tersebut dinilai memalukan harkat dan martabat bangsa kare­na cangkul merupakan peralatan pertanian yang paling sederhana yang mampu diproduksi di da­lam negeri.

Merespons masalah tersebut, kemarin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Men­teri Perindustrian Airlangga Hartarto menggelar rapat mem­bahas masalah tersebut di Kan­tor Kementerian Perindustrian. Rapat dihadiri Sekretaris Jen­deral Kementerian Pertanian Syarif Hidayat, Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika I Gusti Putu Suryawirawan dan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Per­dagangan Luar Negeri Dody Edward.

Airlangga mengakui, pemerintah memberikan izin impor cangkul. Namun, ditegaskan­nya, jumlah izin impor yang diberikan tidak banyak. Karena kebutuhan cangkul di dalam negeri mencapai 10 juta unit. "Sebagian besar kebutuhan cangkul diproduksi di dalam negeri," terang Airlangga.

Dia berjanji, ke depan tidak akan impor alat pertanian terse­but. Karena, PT Krakatau Steel (Persero) dan PT Boma Bisma Indra (BBI) akan memenuhi ke­butuhan cangkul nasional. Nanti dalam produksi, kedua perusa­haan tersebut akan melibatkan industri kecil dan menengah (IKM).

"Krakatau Steel sudah bisa produksi bahan bakunya. PT Boma Bisma Indra dan IKM sudah bisa membuat pacul," tegasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Pe­rusahaan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), Syailendra mengungkapkan, impor dilakukan untuk menekan peredaran cangkul impor ilegal. "Terus terang saja, selama ini banyak produk ilegal masuk. Ini sesuai nawacita Pak Jokowi mau memberantas barang ilegal," ungkapnya.

Dia mengatakan, impor cang­kul yang dilakukannya telah memenuhi perizinan dari Ke­mendag. Impor cangkul dia­tangkan dari China dan Vietnam. Dan, barang yang sudah masuk baru dari China. ***

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Lazismu Kupas Fikih Dam Haji: Daging Jangan Menumpuk di Satu Titik

Jumat, 15 Mei 2026 | 02:12

Telkom Gandeng ZTE Perkuat Pengembangan Infrastruktur Digital

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:51

Menerima Dubes Swedia

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:34

DPD Minta Pergub JKA Dikaji Ulang dan Kedepankan Musyawarah di Aceh

Jumat, 15 Mei 2026 | 01:17

Benarkah Negeri ini Dirusak Pak Amien?

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:42

Pendidikan Tinggi sebagai Arena Mobilitas Vertikal Simbolik

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:37

KNMP Diharapkan Mampu Wujudkan Hilirisasi Perikanan

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:22

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Pembangunan SR Masuk Fase Darurat, Ditarget Rampung Juni 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:33

Harga Minyakita Masih Tinggi, Pengangkatan Wamenko Pangan Dinilai Percuma

Kamis, 14 Mei 2026 | 23:18

Selengkapnya