Berita

Din Syamsuddin (Tengah)

Dunia

Din Syamsuddin Pimpin Sidang ACRP Di Jepang

JUMAT, 28 OKTOBER 2016 | 07:34 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin sejak 25 Oktober 2016 berada di Jepang untuk serangkaian kegiatan.

Selain memimpin Sidang Dewan Pimpinan (Leadership Meeting) Asian Conference on Religions for Peace (ACRP), Din yang menjabat sebagai President-Moderator ACRP juga menjadi pembicara pada simposium tentang 'Countering Violent Extremism in the Name of Religion' di Kyoto, Jepang, Rabu lalu (26/10). Simposium yang diprakarsai WCRP/ACRP Japan itu dihadiri oleh 300 tokoh berbagai agama Jepang, akademisi dan pegiat perdamaian.

Dalam presentasinya, Din menegaskan bahwa kekerasan yang ekstrim adalah ancaman peradaban dan musuh kemanusiaan yang harus dihadapi bersama. Oleh karenanya, perlu didalami faktor-faktor penyebab kekerasan itu.


Menurutnya, terdapat faktor agama yang berasal dari pemahaman agama yang keliru, tapi ada juga faktor-faktor non agama semisal kesenjangan sosial, ekonomi dan politik. Bahkan ketidakadilan global merupakan akar tunjang kekerasan, baik atas nama agama maupun etnosetrisme.

Jelas Din, kekerasan fisik seperti dalam bentuk terorisme ikut dipicu oleh kekerasan modal (capital violence) dan kekerasan negara (state violence). Bahkan, jika dua yang terakhir bersekutu dapat mendorong kekerasan oleh suatu kelompok sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan.

"Namun, apapun motifnya, kekerasan tidak dapat ditoleransi. Setiap kita harus menunjukkan sikap zero tolerance terhadap berbagai bentuk kekerasan, dan penanggulangannya adalah tanggung jawab bersama," ungkap DIn dalam keterangan resminya, Jumat (28/10).

Untuk itu Din mengajukan langkah-langkah strategis untuk penanggulangan kekerasan termasuk terorisme yang diklaim pelakunya atas dasar keagamaan. Pada dimensi keagamaan, adalah tanggung jawab para pemuka agama untuk mengajukan counter narrative dengan mengedepankan wawasan keagamaan jalan tengah (wasathiyah), dan menegaskan bahwa tidak ada dasar pada agama bagi kekerasan, dan kekerasan itu adalah perbuatan anti agama.

Sedangkan penanggulangan faktor-faktor non agama adalah tanggung jawab negara. Hal ini perlu dilakukan dengan menutup setiap celah yang dapat dirasakan dan digunakan oleh segelintir rakyat untuk melakukan kekerasan. Selama masih ada kemiskinan, kesenjangan, dan ketidakadilan, maka potensial ada perlawanan dalam bentuk kekerasan yang acap kali memakai agama sebagai faktor pembenar.

Pada hari berikutnya, Din, yang beberapa waktu lalu mendapat penghargaan dari Pemerintah Jepang (Foreign Minister's Commendation), diundang Parlemen Jepang pada sebuah briefing atau hearing untuk menyampaikan pandangannya tentang peran agama dalam kebijakan luar negeri, hubungan Jepang dan dunia Islam, dan strategi penanggulangan kekerasan ekstrim. Hearing yang berlangsung di Gedung Parlemen Jepang itu diikuti belasan anggota Perlemen Jepang baik dari Partai Liberal Demokrat (LDP) yang berkuasa maupun Partai Demokrat yang beroposisi.

Kebetulan dengan kedua partai tersebut Din selama memimpin Muhammadiyah menjalin hubungan erat. Bahkan, tokoh Partai Demokrat Jepang, Toshihiko Noda, yang pernah menjadi Perdana Menteri Jepang, pernah tiga kali berkunjung ke Kantor PP Muhammadiyah dan Din Syamsuddin pernah diundang berbuka puasa di kediaman PM Noda di Tokyo. Selain dengan Parlemen, Din juga dijadwalkan diterima oleh Menlu Jepang. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya