Berita

Mahyudin

RUU PEMILU

Kombinasi Terbuka-Tertutup Paling Ideal Di Pemilu 2019

KAMIS, 27 OKTOBER 2016 | 07:39 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pemilihan Umum (Pemilu) sudah diserahkan Pemerintah kepada DPR. RUU tersebut adalah tiga gabungan UU. Yaitu UU Pemilihan Presiden, UU Pemilihan Legislatif dan UU Penyelenggara Pemilu.

MPR RI ikut berkomentar soal ramainya tarik-menarik jelang pembahasan RUU Pemilu tersebut. Wakil Ketua MPR, Mahyudin menyarankan sistem tertutup atau kombinasi terbuka-tertutup menjadi solusi yang paling ideal saat ini.

"Solusi yang paling ideal untuk saat ini adalah kombinasi antara sistem terbuka dan tertutup. Jadi ada sebagian kursi yang dipilih secara terbuka dan sebagian lain dipilih secara tertutup," ungkap politisi Partai Golkar itu usai membuka Sosialisasi Empat Pilar MPR di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang, Jawa Tengah, Rabu (26/10).


Mahyudin juga membeberkan, sebenarnya pemilu yang ideal menurut dirinya pribadi adalah tertutup. Bila sistem terbuka, masyarakat di bawah benar-benar terjadi perang Bharathayuda, jadi serangan itu sudah luar biasa.

"Jadi kalau di kita ada istilah 'BerJuAng' (beras, baju dan uang), itu yang bermain dan tidak lagi memilih wakil rakyat yang qualified (berkualitas). Ada yang bagi-bagi sembako bisa kalah yang pintar dan akibatnya politik berbiaya tinggi dan berimbas penurunan kualitas dari pada DPR," tutur Mahyudin.

Kecuali, sambung Mahyudin, masyarakat Indonesia sudah siap dari segi pendidikan dan politiknya baik serta bagus. Memilih orang berdasarkan kualitas dan latar belakang, itu sangat baik untuk memilih dengan sistem secara langsung atau terbuka.

"Bila saat ini memilih secara langsung itu terjadi bagi orang yang punya duit, ada nama, terkenal bila di Jabar itu istilahnya 'geulis dan kasep'. Apakah nanti dia bermutu di DPR tidak urusan," imbuhnya.

Bila ada kabar berita, lanjutnya, terkait proses sidang paripurna itu kosong, karena tidak banyak anggota DPR yang hadir, maka jangan disalahkan, karena itu masyarakat juga yang memilih.

Sekali lagi, sambung Mahyudin, saat ini idealnya kombinasi terbuka dan tertutup. Namun, bila masyarakat sudah objektif dan siap, maka yang paling lebih ideal adalah sistem terbuka.

"Bila masyarakat pemilih sudah bisa objektif dan siap, okelah sistem terbuka. Namun, sekarang menurut saya lebih baik tertutup, atau kombinasi terbuka-tertutup," tandasnya. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya