Berita

Foto/Humas BNPB

Nusantara

Anak-anak SD Kembang-Pacitan Belajar Bencana

SABTU, 22 OKTOBER 2016 | 14:37 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL. Siswa siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kembang, Pacitan, Jawa Timur belajar bencana, khususnya gempabumi dan tsunami dari para fasilitator, Sabtu (22/10). Kegiatan edukasi bencana di sekolah itu dilakukan karena lokasi yang berada di kawasan rawan bencana gempabumi dan tsunami.

Pacitan termasuk wilayah dalam 136 kabupaten/kota dengan indeks risiko tinggi yang diprioritaskan untuk diturunkan indeks risiko bencana sesuai RPJMN 2015-2019. Pacitan merupakan salah satu pusat pertumbuhan wilayah yang rawan bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan menggalakkan jargon 20-20-20. Jargon tersebut mengandung makna 20 detik, 20 menit, 20 meter. Jargon mengindikasikan bila gempa terjadi lebih dari 20 detik, masyarakat memiliki waktu 20 menit untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi lebih dari 20 meter.

"BPBD Pacitan dan mitra mengajak masyarakat untuk waspada dan mengingat jargon tersebut," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya, hari ini.


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan kegiatan edukasi bencana bagi lingkungan sekolah, baik SD hingga Sekolah Menengah Atas rutin setiap tahun. Sekolah yang menjadi target kegiatan edukasi bencana berdasarkan rekomendasi BPBD setempat.

SDN Kembang berjarak kurang 500 m dari pantai Pancer. Lokasi sekolah sangat berisiko karena akses tempat tinggi terdekat terhalang sungai. Edukasi terhadap anak-anak dan guru sekolah sangat mendesak diberikan kepada mereka.

"Harapan bahwa anak-anak dan guru melek bencana, minimal tanda-tanda atau langkah apa yang harus dilakukan pada saat terjadi bencana," jelas Diana, fasilitator kegiatan.

Fasilitator mengajak anak-anak untuk melihat film pendek tentang gempabumi dan tsunami. Fasilitator kemudian melakukan tanya jawab sambil memberikan kuis. Sebanyak 127 siswa kelas 1 sampai dengan 6 yang terbagi ke dalam dua kelas mengikuti dengan semangat.

Sementara itu, satu kelas dikhususkan bagi guru-guru untuk memdapat edukasi bencana. BNPB dan BPBD Pacitan mendampingi para guru di dalam kelas.

"Melalui edukasi bencana, guru mengetahui pengetahuan tentang gempabumi dan tsunami. Mereka juga diharapkan dapat membimbing anak didik ketika terjadi bencana," ungkap Diana.

Catatan sejarah gempabumi besar Pacitan pada 1859 dengan kekuatan 7,5 SR. Gempa saat itu menyebabkan tsunami kecil. Kemudian pada 1937 gempa berkekuatan 7,2 SR terjadi dengan intensitas guncangan gempa dirasakan VII - IX MMI sehingga menimbulkan banyak kerusakan.

Terkait dengan potensi bencana di Pacitan, beberapa waktu lalu UPN Veteran Yogyakarta, Pusat Geoteknologi LIPI serta Universitas Birgham Young, Amerika Serikat melakukan penelitian tentang endapan tsunami purba dan peramalan tsunami. Dari hasil penelitian tersebut, jargon 20-20-20 dicetuskan bersama tim peneliti dan BPBD Pacitan.

Malam hari (22/10), BNPB bekerjasama BPBD Pacitan menyelenggarakan pertunjukkan wayang kulit dengan tema 'Kenali Bahaya, Kurangi Risiko'. Pagelaran wayang kulit merupakan kesenian tradisional yang disukai banyak masyarakat dan dapat dijadikan media sosialisasi penanggulangan bencana yang efektif. Dengan konsep edutainment maka masyarakat mendapat hiburan sekaligus pengetahuan kebencanaan yang dimasukkan dalam lakon cerita wayang. Pertunjukkan bagi masyarakat Pacitan diselenggarakan di Alun-alun Pacitan semalam suntuk. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya