Berita

Politik

Perdebatan Reklamasi Teluk Jakarta Sudah Keluar Fokus

KAMIS, 06 OKTOBER 2016 | 20:11 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Perdebatan mengenai isu reklamasi teluk Jakarta dianggap sudah jauh keluar dari subtansi permasalah. Perdebatan reklamasi sudah dipaksakan menjadi konsumsi publik dengan mengabaikan sejarah kenapa reklamasi dibutuhkan untuk pembangunan kota Jakarta.

"Semua orang bicara reklamasi tapi tidak dalam kapasitasnya berteori tentang reklamasi," kata Koordinator Goverment Policy Observers, Martyn Herlambang dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (6/10).

Padahal katanya, pembicaraan mengenai reklamasi teluk Jakarta semestinya tidak dilepaskan dari sejarah masa lalu mengapa Kepres tentang reklamasi dikeluarkan pemerintah pusat.

"Melihat reklamasi tidak boleh sepotong-sepotong dengan mengacu pada kenyataan saat ini ketika reklamasi ramai diperdebatkan. Akhirnya yang terjadi adalah distorsi sejarah mengapa reklamasi diperlukan," katanya.

Dia menjelaskan reklamasi teluk Jakarta berangkat dari kesadaran pemerintah pusat untuk mencari solusi komprehensif guna mengatasi masalah di Ibukota, mulai dari revitalisasi teluk Jakarta yang semakin tercemar, upaya pemekaran wilayah Ibukota yang luas wilayahnya terbatas, dan lainnya. Atas kebutuhan itu keluar Kepres 52 Tahun 1995 tentang reklamasi pantai Utara Jakarta.

Prdebatan tentang reklamasi dengan hanya melihat pada kenyataan saat ini dan melupakan sejarah panjang yang sudah mengatur kenapa reklamasi dibutuhkan, tambahnya, tentu tidak fair.

"Pemerintah tentu lebih tau apa permasalahan yang dihadapi oleh sebuah wilayah, dan menjadi tanggung jawab mereka untuk mencarikan solusi," kata Martyn.

Ia menambahkan, bagaimana jadinya nasib pembangunan bangsa ini kedepan jika semua orang mengkritisi tanpa memahami subtansi kebutuhan, dan tidak mengenali masalah secara detail.

Karenanya ia mencurigai isu reklamasi sengaja digoreng oleh pihak tertentu yang sengaja mengambil kesempatan memanfaatkan isu ini untuk kepentingan politik menjelang Pilkada.

"Pemerintah setahu saya sudah memberikan penjelasan terkait ketakutan masyarakat atas dampak reklamasi, dan pemerintah juga sudah mengkoordinasikan bersama pengembang untuk melakukan kajian ilmiah demi keamanan proyek ini. Menurut Pak Luhut semuanya sudah clear. Jangan sampai ada pihak yang sengaja menggiring isu ini untuk kepentingan politik menjelang Pilkada," demikian Martyn.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya